8. PENGGENGGAM SETIA
Menurut
Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re,
tidak mempermasalahkan kekurang fisik Yoga. Langkah kaki Yoga yang sedikit timpang menurut Re bukan
perkara besar dibanding dirinya dulu yang sering timpang dalam memahami sesuatu
yang berharga dalam hidup. Dia juga tidak meragukan kesungguhan Yoga, melainkan
meragukan dirinya sendiri. Apakah benar perasaan simpatinya pada Yoga sudah
bisa di pertanggungjawabkan pada jenjang yang lebih serius. Pernikahan adalah
keputusan besar,perasaan simpati tidaklah cukup sebagai bekal untuk menikah.
Itu yang sedang berkecamuk dalam pikiran Re.
Sementara, pada sepenggal perjalanan waktu dia pernah menyimpan
sebuah perasaan yang membingungkanya. Sampai-sampai mengambil keputusan yang
menurutnya salah, yaitu menjauh dari Arumi dan keluarganya. Tetapi memang hanya
itu yang bisa dilakukanya saat itu. Re memang tidak mungkin mengungkapkan
kerisauanya pada Arumi. Terkadang, rahasia itu indah, demikian yang pernah dikatakanya
pada Arumi. Sampai saat ini Arumi tidak mengetahui bahwa kata-kata Re itu mengandung maksud yang sangat dalam
sepanjang hidupnya. Sebenarnya, dia bersikap seolah punya kedekatan dengan Ersa
kemudian berubah seolah jatuh cinta pada
Jay,hanya untuk menutupi perasaanya yang sebenarnya.
Sebagai gadis yang sejak kecil mulai membenci sosok
pria, dia memang sedikit kesulitan mendeteksi perasaanya. Seringkali ada
penolakan yang tidak disadarinya walau di sisi lain ada perasaan yang nyaman
dan aman ketika bergaul dengan teman laki-laki. Sejak mengenal Arumi dan
keluarganya Re mulai menyadari, ternyata ada laki-laki yang sangat bertanggung
jawab dan baik hati dan itu ditemukanya pada sosok Surya. Re mengidolakan
Surya.
Alasan itu yang membuat Re tidak segera memberi
jawaban atas lamaran Yoga hingga beberapa bulan lamanya. Tetapi Yoga tetap
setia menunggu.
Dari hari ke hari
hatinya kian condong pada Yoga, akhirnya dia berani mengambil keputusan
besar dalam hidupnya. Tentu saja hal itu tidak lepas dari masukan dan dorongan Arumi.
Sejak awal mula mengenal Arumi, Re merasa Arumi adalah gurunya. Walau Arumi
sama sekali tidak merasakan hal itu. Arumi benar-benar menempatkan dirinya
seperti sahabat dan kakak. Bagi Re, justru sikap Arumi itulah yang membuat Re
merasa bahwa Arumi pantas dijadikan
penasehatnya.
**
Re, awalnya aku berat
menjadi kepanjangan tangan Yoga karena itu berarti nantinya aku dan Mas Surya harus
berhapan dengan Jay lagi. Tetapi itu semua sudah kuadukan padaNya. Ini semua
kuasa Tuhan, aku hanya menjalaninya,semoga lulus. Menutup buku tentang Jay,akhirnya hanya menjadi tulisan yang
menggelikan. Sungguh,apalah rencana
manusia . Apapaun itu,semoga kami
tetap mampu berpegang pada jalan yang lurus.
(Di ruang baca
)
**
Arumi sedang melalui episode baru yang pernah di
ramalkanya dulu, dia harus berhadapan kembali dengan Jay, justru lebih intens
dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Arumi seperti ibu bagi Re, sementara Jay
seperti ayah bagi Yoga. Berdasar musyawarah, pernikahan Re akan dilangsungkan
di Jakarta. Ibu Re meminta dengan sangat pada Arumi dan Surya untuk membantu
mempersiapkan pernikahan anaknya karena
kondisi kesehatanya tidak memungkinkan, selain itu bisa dikatakan Re tidak memiliki kerabat yang bisa diandalkan
yang tinggal di Jakarta. Sementara itu, orangtua Yoga meminta Jay untuk
membantunya mengurus pernikahan Yoga. Walau tidak serepot pihak mempelai
wanita, tetapi tetap saja memerlukan persiapan dan perlu ada komunikasi antar
dua pihak keluarga.
Sejak awal Arumi sudah mengatakan pada Surya jangan
sampai ada kecemburuan bila saat ini, situasi dan kondisinya memungkinkan
dirinya berurusan dengan Jay. Arumi juga meminta agar Surya terus berkomunikai
dengan Jay, supaya bila ada hal-hal yang perlu ditanyakan Jay bisa berkomunikasi
melalui Surya bukan melalui dia.
Satu hal yang
membuat Arumi sedikit tenang, Fe berangkat ke Singapur seminggu yang lalu, dua
hari kemudian Jay dan keluarga Yoga
datang ke Indonesia. Betapa keadaan akan semakin rumit bila Fe ikut membantu mengurus
pernikahan Re. Sebagai teman, Arumi sudah memberitahu Fe bahwa Re akan menikah
dengan kenalanya. Saat itu Fe masih sempat berseloroh, bahwa dia ikut bahagia
asal Re tidak menikah dengan Jay.
**
Telpon Arumi berbunyi, Arumi membuang nafas ketika mendapati
Jay kembali menelponnya.
“Em...kenapa
ponsel Mas Surya tidak aktif juga, ya?”
tanya Jay diujung telepon.
“Oh,
iya batrenya drop. Sekarang dia sedang tidur,
ga sempat mengaktifkan lagi. Ada perlu apa ?”
“Soal
tamu undangan.., baru saja aku bertemu
teman lama,bagaimana kalau mereka saya undang?’.... “
“Tak
masalah,silakan saja!” jawab Arumi singkat.
“Ok,
tapi tolong sampaikan pada Mas Surya ya,
atau nanti saya menelpon Mas Surya lagi. Saya menelponmu karena butuh kepastian
cepat, tinggal tiga hari lagi kan? “ jelas Jay seolah ingin memastikan
bahwa dia tidak mengada-ada menelpon Arumi.
“Ya
benar, santai saja .”
Hening...Jay menghela nafas dan terdengar oleh Arumi.
Perasaan Arumi mulai tidak tenang. Ketika Arumi akan mengakhiri teleponnya….
“Oh ya, kamu tidak pernah ke
Bantar Gebang mengunjungi Pak Slamet lagi?”
“Sudah
agak lama aku Nggak ke sana…”
“Aku
beberapa kali ke sana dan terakhir, sekitar satu minggu setelah
kedatanganmu, tanpa kutanya tiba-tiba
dia bercerita panjang lebar. Begitulah,
entah apa rencana Tuhan di balik semua ini, saat aku ingin tenang, ada saja hal
di luar dugaan.”
Arumi hanya menghela nafas dan tetap diam.
“Bertetangga denganmu, temanmu
ternyata mantan mahasiswiku, punya sebuah kegiatan di tempat yang sama, pertemuan
tak sengaja di pernikahan keponakan Fe, pertemuan tak sengaja di toko buku saat
aku akan menjauh ke Singapur dan sekarang…
kita justru menjadi besan !”
keluh Jay tak terkendali kemudian membuang nafas.
Seolah dia lupa, awal kalimatnya saat menelpon Arumi
tadi dia menunjukkan bahwa dia tidak
mengada-ada menelpon Arumi.
“Iya
,skenario Tuhan kadang unik.” jawab Arumi singkat kemudian segera merapatkan
bibirnya.
“Menurutku
ini adalah humor Tuhan yang kadang tidak
lucu, tapi di lain waktu tiba-tiba membuatku tertawa…kadang aku juga merasa
kesal dengan humor Tuhan ini!”
“Astaghfirullah, bicara apa kamu Jay ?!”
“Sepertinya
Tuhan sengaja membuatku lumat ” lanjut Jay tak menanggapi ucapan Arumi
Arumi hanya diam sambil memejamkan matanya namun dahinya sedikit mengkerut.
Hening….
“Spring on calender, autum in my heart....kenal
kalimat itu kan?” tanya Jay tiba-tiba.
“Ya,
judul karya puisi Ilham Malayu. Emm...sudah lah Jay, apa yang kita sukai belum
tentu baik buat kita demikian juga sebaliknya. Percayalah, Tuhan menguatkan
tidak mungkin melumatkan,
“Aku jadi ingat kata-kata Imam Syafe’i saat ditanya
perihal pilihan calon pendamping, jawabnya, selisihilah hawa nafsumu
...jadi,yakinlah kau akan mendapat pendamping yang tepat, Jay… walau mungkin
awalnya tidak selalu seperti keinginanmu. ”
“Ya, dan Tuhan tidak menguji
melebihi kemampuan hambanya. Dua kalimat
itu memang selalu menghiburku dan menguatkanku tapi… ketika aku harus berurusan
dengan kamu seperti ini, kadang aku merasa Tuhan sangat kejam.” tutur Jay
dengan tempo lambat dan dalam.
“Cukup
Jay, please !’ kata Arumi dengan
suara tak jernih hampir menangis. “Aku juga bingungg, aku juga
bertanya-tanya…namun aku hanya berpikir bahwa inilah ujian kita… kita kuat..InsyaAllah kita kuat ! ” imbuh Arumi
kemudian terisak, tak tertahan.
“Oh,..maaf,
maaf …jangan menagis …please,jangan
menangis Sekar.” pinta Jay , gugup.”Aku
benar-benar sedang kacau hari ini…,maaf .” imbuhnya.
Arumi masih terisak…
“Sekar…maafkan
aku, tolong berhentilah menangis, Sayang.” pinta Jay lagi.
Arumi tertegun mendengar ucapan “sayang” yang meluncur
begitu saja dari mulut Jay. Seketika tangis Arumi berhenti. Dia berusaha menata
emosinya sambil membasuh air matanya.
“Ya,aku
sudah baik-baik saja kok…emm….kau tau
Jay, di luar sana banyak sekali wanita cantik,sholehah dan hebat..semangat Jay
! sekian dulu ya, Assalamu’alaikum !”
Arumi bergegas
ke kamar mandi, tangisnya kembali pecah. Ada perasaan Iba dan ingin menolong, tetapi dia kebingungan harus
bagaimana. Arumi menyadari satu hal, ternyata intuisinya selama ini benar, Jay
belum melupakan dirinya sepenuhnya. Teori gerak relatif, ambruk.
Sang Maha kuat, kuatkan aku,
kuatkan suamiku dan kuatkan dia, Jay. Aku akan setia menunggu malam yang akan
menjelaskan segala hikmah di balik semua ini.
( Di kamarku,tiga hari
jelang pernikahan Re)
**
“Ngobrol
apa semalam sama Jay?” tanya Surya tiba-tiba sambil menyisir rambutnya di depan
cermin.
Arumi tertegun“Oh….jadi semalem tuh belum tidur? kenapa ponsel Mas Surya ga diaktifkan?” Arumi justru balik bertanya dengan sedikit kesal. Surya
hanya diam.
“Aku memang sudah tidur, aku terbangun ….emmm,
kenapa kamu semalam juga menangis?”
“Aku
kasihan dan bingung…!” tukas Arumi cepat,dengan nada agak ketus.
Kemudian Arumi menceritakan keluhan Jay. Surya hanya
mengembuskan nafas panjang.
“Ok,
jadi … dia tidak merayumu. kan? ” tanya Surya lugas
Arumi menggeleng cepat sambil membelalakkan matanya,
namun bersamaan dengan gelengan kepalanya itu, dia teringat kata “Sayang” yang diucapkan Jay saat dia menangis. Satu
kata yang tidak pernah diucapkan Surya kepadanya. Namun bagi Arumi itu bukan
rayuan,itu sepontanitas.
“Ok,
besok kamu…emm,hati-hati sajalah ! ”
kata Surya dengan nada datar pun ekspresi wajahnya sambil berlalu.
Arumi secepatnya menarik tangan Surya, agar langkah
Surya terhenti “Mas, jaga hati…jangan sampai seperti dulu.” pinta Arumi serius
sambil menatap tajam suaminya.
Surya hanya memandang Arumi, sesaat kemudian Surya
mendaratkan kecupan di bibir Arumi, tersenyum kemudian berlalu.
Arumi diam mematung dan menyadari, itu adalah
keromantisan yang disukai Arumi. Tanpa ucapan pun Arumi bisa memahami makna
yang tersirat. Seulas senyum bahagia tersungging di bibir Arumi.
Mars oh
Mars rupanya kamu punya perasaan yang menonjol juga ,hanya saja kau bisa
menghadangnya dengan logika dan gengsi tetapi kadang benteng logikamu tak cukup
kuat,karena cinta dan cemburu....dan akhirnya
bila sudah begitu hanya beda tipis dengan Venus. Yah, setidaknya sejak kemarin dan hari ini
aku melihatnya, pada Jay dan Mr, Surya
Guritna.
Kuatkan kami,
agar kami semua bisa fokus pada kelancaran upacara pernikahan Re,bukan pada
kerumitan perasaaan kami masing-masing. Takdirnya, kita harus berada dalam satu
team, ini memang tidak mudah...(
menjelang pernikahan Re )
**
Setelah acara akad nikah selesai, kedua mempelai
meninggalkan gedung untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Mbak
Widya, ibu Yoga mendekati Arumi dan Surya dengan wajah tegang kemudian
membisikkan sesuatu.
“Mbak Widya sebaiknya kembali ke tempat duduk
besan, saya akan mencari Mas Jay !” jelas Surya, nada suaranya sangat
menenangkan. “Em..dan kalau bisa,tolong kondisikan,jangan sampai Re dan Yoga
tahu !” imbuh Surya.
“Benar Mbak, yukk... !” imbuh Arumi sambil
menggandeng lengan Widya menuju kursi
besan.
Widya membisu dengan raut wajah sedih. Arumi berusaha
menenangkan kakak tertua Jay itu.
“Segitunya dia patah hati
sama kamu, Rum !” kata Widya sambil memandang Arumi kemudian tersenyum kecut.
Arumi membalas
dengan senyuman “Mbak, Jay pribadi yang baik, tapi aku lebih cenderung
menghormatinya.” tutur Arumi lirih sambil sedikit tertunduk.
Widya tetap membisu, Arumi merasa serba salah, sesekali
bibirnya bergerak-gerak melafazkan zikir sambil menggoyang-goyangkan kakinya mengusir
perasaan kikuk dan cemas. Sesekali dia memanjangkan lehernya mencari Surya, tak
sabar menunggu kabar dari Surya. Dua tiga pasang mata yang duduk di deretan
besan bergantian memandang Arumi ,ada yang datar saja ,ada yang nampak heran
ada pula yang sedikit sinis. Arumi merasa seperti terdakwa penyebab kepergian
Jay. Arumi menguatkan hatinya agar mampu bersikap tenang.
Ketika Surya muncul,Arumi langsung menghampirinya. Saat
mereka berhadapan, Surya justru menatap mata Arumi,seperti mencari sesuatu dari
mata Arumi. Arumi balas menatap surya dengan raut wajah heran. Arumi membuang
nafas sambil menggelengkan kepala. Barulah
kemudian Suya mengatakan bahwa berdasar ciri-ciri yang diberikan Surya kepada
Satpam, Satpam melihat Jay pergi meninggalkan gedung menggunakan taxy ke arah Timur.
Arumi segera menghampiri Widya, membisikkan informasi
itu pada Widya sambil kembali menenangkan Widya. Tak lama kemudian ,Re dan Yoga
muncul dengan gaun yang berbeda menuju pelaminan. Suasana tetap meriah hingga
acara berfoto tiba. Saat Mc memanggil paman-paman dari pihak Yoga untuk
berfoto, Yoga dan Re baru menyadari paman kesanyangan mereka tidak terlihat.
**
Ternyata Jay sempat mengirim
pesan pada Yoga dan Re. Pesan itu dikirim sekitar jam setengah delapan, selepas
acara akad nikah. Dalam pesan singkat tersebut Jay meminta maaf
tidak bisa mengikuti acara resepsi, dan mengatakan bahwa dia sedang
berada di Bogor dan akan bermalam dua atau tiga hari lagi. Informasi itu segera
disampaikan Yoga pada Surya via telepon. Surya berniat meneruskan informasi itu
pada Arumi. Dia bergegas ke kamar
“Lhoh..kok belum tidur Sekar Marun? “ tanya Surya dengan nada
sedikit bergurau ketika mendapati Arumi
masih melamun di ranjang. Arumi tetap diam, tidak menanggapi pertanyaan Surya.
“Kok….kayaknya sedih banget ?” selidik
Surya sambil mendekati Arumi.
“Ya,Mas…aku
sedih,malu,bingung menjadi tudingan penyebab menghilangnya Jay...ah sudahlah.” Arumi mengibaskan
tangannya.
Surya hanya diam, namun ada perasaan lega karena mampu mendeteksi perasaan istrinya.
Sejak di gedung tadi, dia belum menemukan jawaban dari sorot mata Arumi.
“Tadi
Yoga memberi kabar, Jay sedang di Bogor !” kata Surya
“Syukurlah
kalau sudah ada kabar.. !” sahut Arumi singkat.
Sebelum
merebahkan tubuhnya, Surya memandang Arumi kemudian tersenyum simpul, bahagia.
Arumi merasa heran melihat sikap Surya.
“Kenapa
malah senyum sih ?” tanya Arumi sambil
melempar bantal ke badan Surya dengan kesal.
“Seneng….sedihmu bukan
karena kehilangan Jay ! ” jawab Surya kemudian menarik Arumi dalam pelukannya.
Hari yang bersejarah dalam
hidup Re, mudah diingat karena ada kejadian menghilangnya salah seorang saksi
nikah selepas akad nikah. Semoga tetap bertanggungjawab jika suatu saat Re dan
Yoga menghadapi masalah, karena saksi
nikah bukan sebatas formalitas,saksi nikah juga memiliki tanggungjawab….
(Di kamarku, di
hari pernikahan Re,.... )
**
Sore
itu, sebuah mobil putih bersih meluncur di jalan raya yang sedang lengang,namun
beberapa meter kemudian mobil itu menepi. Penumpang memberikan uang pada Supir,
kemudian supir keluar menuju warung kopi di seberang jalan. Si penumpang
termenung di dalam mobil, menatap langit senja dihadapannya kemudian menuliskan
sesuatu di agendanya
Senja jingga, seolah kau
mempersilahkan diriku untuk melukismu dengan sebuah pesan “Kau akan melukisku sekarang atau kau biarkan
aku pergi ? walau esok akan ada senja
lagi,namun belum tentu kau bisa melihatnya atau mungkin saja senja esok
memiliki komposisi warna yang berbeda dengan hari ini.”
Senja, kau bertutur tentang keindahan dan kesempatan.
Dan aku sadar,aku telah kehilangan keduanya. Namun penerimaan adalah pilihanku.
Cukup sudah, semoga Tuhan tidak mengajakku bercanda lagi. Semoga Tuhan telah
meluluskanku menjalani ujian ini. Aku menerima kehendak-Mu, kuatkanlah aku.
Sekitar sepuluh menit
kemudian ….
“Pak, saya sudah ngopi,
terimakasih Pak, Bapak sangat pengetian !” kata supir
“Sama-sama Pak, saya sambil menikmati langit senja itu
Pak,cantik sekali !” kata Jay sambil tersenyum “
“Wah…Bapak romantis ya…!” sahut supir taxy sambil
terkikih, Jay hanya tersenyum.
“Ok…kita
meluncur ke Bandara ya, Pak!”
“Baik
Pak ! Emm..,tadi Bapak bilang mau ke Singapur ya? mau berapa lama di Singapur
Pak?”
“Saya memang tinggal di sana Pak !”
“Ohh…begitu, .. tinggal di Indonesia lagi saja Pak, saya
siap jadi supir pribadi Bapak, hehe…. !”
“Hehee..,ya Pak memang rasanya ingin tinggal di Indonesia
saja,tapi saat ini harus di sana dulu ,Pak !” jawab Jay kemudian tersenyum
namun seperti menahan rasa pilu.
“Oh,karena pekerjaan ya Pak,?”
“Ya Pak, pekerjaan berat hehee…do’akan saja saya kuat ya,
Pak!” kata Jay kemudian tersenyum lagi.
“Kuat apa Pak?”
“Kuat untuk menerima takdir yang kadang tidak sesuai
dengan keinginan ki…,Pak hati-hati Pak… Pak!… awas Pak!! Innalillahi wainnailahi rojiun !!”
Darrrr !!!!…….dentuman
keras membahana
**
Malam
itu Fe datang ke rumah Arumi sambil
menenteng paper bag cantik berisi oleh-oleh dari Singapur. Mereka saling
melepas rindu kemudian bertukar cerita. Fe menceritakan perjalanannya ke
Singapur, Arumi menceritakan pernikahan Re dan Yoga.
“Jadi....,sekarang kamu dan Jay udah kayak
berbesanan ya ?!” tutur Fe dengan mata
berkilat. “Pasti kamu punya alamat keluarga Jay di Singapur !” kata Fe sambil
menyeringai.
Arumi menatap Fe sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya, Fe malah terkekeh.
“Ayolah
Lady Rose, mana?..mana?..berikan
alamat Jay padaku.” kata Fe sambil mengatungkan tangannya.
“No,
Fe !” jawab Arumi tegas.
“Emmm…jadi
bener nih kamu punya alamat keluarga
Si ganteng itu, pancinganku kena deh…”
kata Fe kemudian terbahak.
Arumi diam,merasa terjebak. Fe terbahak lagi.Arumi
bertahan diam sambil memandang Fe, kesal.
“Ehhh..iya, waktu resepsi
pernikahan Renata, tentunya kalian….ehmmm ? “ gurau Fe sambil terkekeh
“Mana mungkin … setelah akad nikah selesai tiba-tiba..…”
Arumi terdiam,
kemudian segera merapatkan bibirnya, hampir saja dia keceplosan menceritakan
ada sebuah drama menghilangnya Jay usai akad nikah Re.
“Heh….tiba-tiba kenapa? ” tanya Fe seketika sambil mengernyitkan
dahinya
Arumi tertawa kecil “Kenak deh, ..satu sama, aku bisa gantian
ngerjain kamu !” Fe ikut tertawa merasa kalah. Kamuflase yang dimainkan Arumi cukup cantik, Fe pun tak tergoda
untuk mengulik lagi.
“Percayalah Fe, nggak terpikirkan oleh kami untuk neko-neko.” tandas Arumi. Fe tersenyum
“Hehee…aku masih kawanmu yang dulu Rum, yang
sangat mengakui kejujuran seorang Arumi” jelas Fe sambil tersenyum .
“Thank’s , Fe!” jawab Arumi membalas
senyum.
Hening…Fe seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Fe, fokuslah
pada penyelesaian masalahmu,please! jangan
biarkan pikiranmu terkontaminasi oleh Jay lagi, ya ?!” tutur Arumi dengan nada
suara yang lembut namun tegas. Fe memandang Arumi sambil tersenyum.
“Rum,terimakasih
atas konsistensimu melarangku
memikirkan Jay…sebenarnya sejak tadi aku
hanya becanda, aku sudah berniat melupakan Jay dan Tuhan memberiku kekuatan…”
jelas Fe kemudian menghela nafas “Sedikit-sedikit,aku bisa melupakannya..saat
ini aku tidak terobsesi seperti dulu..aku sudah lebih tenang, Rum. “ jelas Fe
dengan nada landai,kemudian tersenyum.
Arumi tertegun , menatap Fe dengan seulas senyuman dan
binar mata bahagia.
“Aku semakin sadar Rum, pada
umumnya yang disebut teman yang pengertian adalah teman yang tidak mengendalikan hawa nafsu
temannya,pembiaran diartikan sabar, pengertian dan penuh maklum…tapi kamu
berbeda Rum, terimakasih.” tutur Fe sambil tersenyum,matanya berkaca-kaca.
Arumi mematung beberapa saat memandang Fe kemudian menghambur
memeluk Fe, Fe balas memeluk Arumi erat,air mata mereka tak terbendung lagi.
**
Rahasia itu kadang indah
Tiba-tiba
aku teringat kata-katamu itu Re….dan aku mengerti itu bukan berarti dusta,
karena cinta enggan berdusta.
Dan
semoga kau tetap berpikir,bahwa aku tidak mengetahui jika sebenarnya kau pernah
jatuh cinta pada Mas Surya. Aku mengerti kau memang tidak jatuh cinta pada Ersa maupun Jay. Sekarang,kau sudah menemukan
tambatan hatimu Re, aku bahagia.
Ya
Tuhan, semoga Kau mencatat kami sebagai para penggenggam setia….setia akan
ikrar kami sebagai hamba-Mu dan setia pada pasangan kami.
Namun…hari ini, mengapa perasaanku tak karuan, ada
kesedihan yang tak bisa kudifdinisikan…, Jay,kau baik-baik saja ?
(Menjelang akhir tahun…,di Kastil Mawar Merah)
TAMAT
PROFIL PENULIS
Zakiyah Rosidah, lahir dan besar di Surakarta. Tanggal 3 Juli 1973. Pendidikan
terakhirnya di perguruan tinggi di
Fakultas Pendidikan jurusan Pendidikan Dunia Usaha UNS.
Memiliki kegemaran menulis diary dan korespondensi sejak SD. Ketika
sudah berkeluarga dan berputra ,dia masih suka menulis diary, puisi ,cerpen, atau
menuliskan gagasan-gagasannya namun tidak ada yang dipublikasikan. Maraknya
media sosial mendorongnya menulis di FB, Blog pribadi dan Kompasiana. Artikel
opininya sempat mendapatkan beberapa kali Headline dan Terekomendasi di
Kompasiana. Pernah terpilih dalam sepuluh besar lomba menulis cerpen Diva Press
dengan tema Maret momen. Cerbungnya 7 episode dimuat di sebuah majal niihah wanita
Potret ,Aceh. Pada cerbung itulah dia mulai menggunakan nama penanya, Amadia
Raseeda.
BLURB
Arumi akhirnya membenarkan ucapan asisten rumah
tangganya “Saya takut lukisan itu berbahaya ,Bu !”
Untaian cerita yang mampu mengaduk pikiran dan perasaan Arumi memang bermula
dari lukisan itu, hingga Arumi,wanita berintuisi tajam itu jatuh sakit dan
mengalami pengangkatan rahim. Bukan perkara sepele bagi seorang wanita, apalagi
Arumi mengerti Surya ingin memiliki banyak anak.
Dan…kesempatan untuk berselingkuh terbuka lebar bagi Arumi dan Jay, yang
mengagumi Arumi sejak kuliah. Namun ternyata mereka tidak pernah memanfaatkan
kesempatan itu,mengapa? Sementara
Fe,sahabat Arumi justru menginginkan mendapat kesempatan itu. Jay memang seniman
yang penuh pesona.
Sementara itu, Arumi akhirnya sadar bahwa Re, teman yang sudah seperti
adiknya sendiri,jatuh cinta pada Surya suaminya,namun Arumi bertahan tenang.
Mengapa?
Apa saja yang ditulis Arumi dalam catatan-catatan kecilnya? Mungkin
jawabnya ada di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar