Selasa, 25 November 2025

Karena Cinta Enggan Berdusta 4


8. PENGGENGGAM SETIA
            Menurut Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re, tidak mempermasalahkan kekurang fisik Yoga. Langkah kaki  Yoga yang sedikit timpang menurut Re bukan perkara besar dibanding dirinya dulu yang sering timpang dalam memahami sesuatu yang berharga dalam hidup. Dia juga tidak meragukan kesungguhan Yoga, melainkan meragukan dirinya sendiri. Apakah benar perasaan simpatinya pada Yoga sudah bisa di pertanggungjawabkan pada jenjang yang lebih serius. Pernikahan adalah keputusan besar,perasaan simpati tidaklah cukup sebagai bekal untuk menikah. Itu yang sedang berkecamuk dalam pikiran Re. 
Sementara, pada sepenggal perjalanan waktu dia pernah menyimpan sebuah perasaan yang membingungkanya. Sampai-sampai mengambil keputusan yang menurutnya salah, yaitu menjauh dari Arumi dan keluarganya. Tetapi memang hanya itu yang bisa dilakukanya saat itu. Re memang tidak mungkin mengungkapkan kerisauanya pada Arumi. Terkadang, rahasia itu indah, demikian yang pernah dikatakanya pada Arumi. Sampai saat ini Arumi tidak mengetahui bahwa kata-kata Re  itu mengandung maksud yang sangat dalam sepanjang hidupnya. Sebenarnya, dia bersikap seolah punya kedekatan dengan Ersa kemudian berubah  seolah jatuh cinta pada Jay,hanya untuk menutupi perasaanya yang sebenarnya.
Sebagai gadis yang sejak kecil mulai membenci sosok pria, dia memang sedikit kesulitan mendeteksi perasaanya. Seringkali ada penolakan yang tidak disadarinya walau di sisi lain ada perasaan yang nyaman dan aman ketika bergaul dengan teman laki-laki. Sejak mengenal Arumi dan keluarganya Re mulai menyadari, ternyata ada laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan baik hati dan itu ditemukanya pada sosok Surya. Re mengidolakan Surya.
Alasan itu yang membuat Re tidak segera memberi jawaban atas lamaran Yoga hingga beberapa bulan lamanya. Tetapi Yoga tetap setia menunggu.
Dari hari ke hari  hatinya kian condong pada Yoga, akhirnya dia berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Tentu saja hal itu tidak lepas dari masukan dan dorongan Arumi. Sejak awal mula mengenal Arumi, Re merasa Arumi adalah gurunya. Walau Arumi sama sekali tidak merasakan hal itu. Arumi benar-benar menempatkan dirinya seperti sahabat dan kakak. Bagi Re, justru sikap Arumi itulah yang membuat Re merasa bahwa  Arumi pantas dijadikan penasehatnya.
**
Re, awalnya aku berat menjadi kepanjangan tangan Yoga karena itu berarti nantinya aku dan Mas Surya harus berhapan dengan Jay lagi. Tetapi itu semua sudah kuadukan padaNya. Ini semua kuasa Tuhan, aku hanya menjalaninya,semoga lulus. Menutup buku tentang Jay,akhirnya hanya menjadi tulisan yang menggelikan. Sungguh,apalah rencana manusia . Apapaun itu,semoga kami tetap mampu berpegang pada jalan yang lurus.
  (Di ruang baca )
**       
Arumi sedang melalui episode baru yang pernah di ramalkanya dulu, dia harus berhadapan kembali dengan Jay, justru lebih intens dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Arumi seperti ibu bagi Re, sementara Jay seperti ayah bagi Yoga. Berdasar musyawarah, pernikahan Re akan dilangsungkan di Jakarta. Ibu Re meminta dengan sangat pada Arumi dan Surya untuk membantu mempersiapkan  pernikahan anaknya karena kondisi kesehatanya tidak memungkinkan, selain itu bisa dikatakan Re  tidak memiliki kerabat yang bisa diandalkan yang tinggal di Jakarta. Sementara itu, orangtua Yoga meminta Jay untuk membantunya mengurus pernikahan Yoga. Walau tidak serepot pihak mempelai wanita, tetapi tetap saja memerlukan persiapan dan perlu ada komunikasi antar dua pihak  keluarga.
Sejak awal Arumi sudah mengatakan pada Surya jangan sampai ada kecemburuan bila saat ini, situasi dan kondisinya memungkinkan dirinya berurusan dengan Jay. Arumi juga meminta agar Surya terus berkomunikai dengan Jay, supaya bila ada hal-hal yang perlu ditanyakan Jay bisa berkomunikasi melalui Surya bukan melalui dia.
 Satu hal yang membuat Arumi sedikit tenang, Fe berangkat ke Singapur seminggu yang lalu, dua hari kemudian  Jay dan keluarga Yoga datang ke Indonesia. Betapa keadaan akan semakin rumit bila Fe ikut membantu mengurus pernikahan Re. Sebagai teman, Arumi sudah memberitahu Fe bahwa Re akan menikah dengan kenalanya. Saat itu Fe masih sempat berseloroh, bahwa dia ikut bahagia asal Re tidak menikah dengan Jay.
**
Telpon Arumi berbunyi, Arumi membuang nafas ketika mendapati Jay kembali menelponnya.
            “Em...kenapa ponsel Mas Surya tidak aktif  juga, ya?” tanya Jay diujung telepon.
            “Oh, iya batrenya drop. Sekarang dia sedang tidur, ga sempat mengaktifkan lagi. Ada perlu apa ?”
            “Soal tamu undangan.., baru saja aku  bertemu teman lama,bagaimana kalau mereka saya undang?’.... “
            “Tak masalah,silakan saja!” jawab Arumi singkat.
            “Ok, tapi tolong sampaikan pada Mas  Surya ya, atau nanti saya menelpon Mas Surya lagi. Saya menelponmu karena butuh kepastian cepat, tinggal tiga  hari lagi  kan? “ jelas Jay seolah ingin memastikan bahwa dia tidak mengada-ada menelpon Arumi.
            “Ya benar, santai saja .”
Hening...Jay menghela nafas dan terdengar oleh Arumi. Perasaan Arumi mulai tidak tenang. Ketika Arumi akan mengakhiri teleponnya….
“Oh ya, kamu tidak pernah ke Bantar Gebang mengunjungi Pak Slamet lagi?”
            “Sudah agak lama aku Nggak ke sana…”
            “Aku beberapa kali ke sana dan terakhir, sekitar satu minggu setelah kedatanganmu,  tanpa kutanya tiba-tiba dia bercerita panjang lebar.  Begitulah, entah apa rencana Tuhan di balik semua ini, saat aku ingin tenang, ada saja hal di luar dugaan.”
Arumi hanya menghela nafas dan tetap diam.
            “Bertetangga denganmu, temanmu ternyata mantan mahasiswiku, punya sebuah kegiatan di tempat yang sama, pertemuan tak sengaja di pernikahan keponakan Fe, pertemuan tak sengaja di toko buku saat aku akan menjauh ke Singapur dan sekarang…  kita justru menjadi besan !”  keluh Jay tak terkendali kemudian membuang nafas.
Seolah dia lupa, awal kalimatnya saat menelpon Arumi tadi dia  menunjukkan bahwa dia tidak mengada-ada menelpon Arumi.
            “Iya ,skenario Tuhan kadang unik.” jawab Arumi singkat kemudian segera merapatkan bibirnya.
            “Menurutku ini adalah humor Tuhan yang kadang  tidak lucu, tapi di lain waktu tiba-tiba membuatku tertawa…kadang aku juga merasa kesal dengan humor Tuhan ini!”
            “Astaghfirullah, bicara apa kamu Jay ?!”
            “Sepertinya Tuhan sengaja membuatku lumat ” lanjut Jay tak menanggapi ucapan Arumi
Arumi hanya diam sambil memejamkan matanya namun  dahinya sedikit mengkerut.
Hening….
            “Spring on calender, autum in my heart....kenal kalimat itu kan?” tanya Jay tiba-tiba.
            “Ya, judul karya puisi Ilham Malayu. Emm...sudah lah Jay, apa yang kita sukai belum tentu baik buat kita demikian juga sebaliknya. Percayalah, Tuhan menguatkan tidak mungkin melumatkan,
“Aku  jadi ingat kata-kata Imam Syafe’i saat ditanya perihal pilihan calon pendamping, jawabnya, selisihilah hawa nafsumu ...jadi,yakinlah kau akan mendapat pendamping yang tepat, Jay… walau mungkin awalnya tidak selalu seperti keinginanmu. ” 
“Ya, dan Tuhan tidak menguji melebihi kemampuan hambanya.  Dua kalimat itu memang selalu menghiburku dan menguatkanku tapi… ketika aku harus berurusan dengan kamu seperti ini, kadang aku merasa Tuhan sangat kejam.” tutur Jay dengan tempo lambat dan dalam.
            “Cukup Jay, please !’ kata Arumi dengan suara tak jernih hampir menangis. “Aku juga bingungg, aku juga bertanya-tanya…namun aku hanya berpikir bahwa inilah ujian kita… kita kuat..InsyaAllah kita kuat ! ” imbuh Arumi kemudian terisak, tak tertahan.
            “Oh,..maaf, maaf …jangan menagis …please,jangan menangis  Sekar.” pinta Jay , gugup.”Aku benar-benar sedang kacau hari ini…,maaf .” imbuhnya.
Arumi masih terisak…
            “Sekar…maafkan aku, tolong berhentilah menangis, Sayang.” pinta Jay lagi.
Arumi tertegun mendengar ucapan “sayang” yang meluncur begitu saja dari mulut Jay. Seketika tangis Arumi berhenti. Dia berusaha menata emosinya sambil membasuh air matanya.
            “Ya,aku sudah baik-baik saja kok…emm….kau tau Jay, di luar sana banyak sekali wanita cantik,sholehah dan hebat..semangat Jay ! sekian dulu ya, Assalamu’alaikum !”
 Arumi bergegas ke kamar mandi, tangisnya kembali pecah. Ada perasaan Iba dan  ingin menolong, tetapi dia kebingungan harus bagaimana. Arumi menyadari satu hal, ternyata intuisinya selama ini benar, Jay belum melupakan dirinya sepenuhnya. Teori gerak relatif, ambruk.
Sang Maha kuat, kuatkan aku, kuatkan suamiku dan kuatkan dia, Jay. Aku akan setia menunggu malam yang akan menjelaskan segala hikmah di balik semua ini.
( Di kamarku,tiga hari  jelang pernikahan Re)
**
            “Ngobrol apa semalam sama Jay?” tanya Surya tiba-tiba sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
Arumi tertegun“Oh….jadi semalem tuh belum tidur? kenapa ponsel Mas Surya ga diaktifkan?” Arumi justru balik bertanya dengan sedikit kesal. Surya hanya diam.
 “Aku memang sudah tidur, aku terbangun ….emmm, kenapa kamu semalam juga menangis?”
            “Aku kasihan dan bingung…!” tukas Arumi cepat,dengan nada agak ketus.
Kemudian Arumi menceritakan keluhan Jay. Surya hanya mengembuskan nafas panjang. 
            “Ok, jadi … dia tidak merayumu. kan? ” tanya Surya lugas
Arumi menggeleng cepat sambil membelalakkan matanya, namun bersamaan dengan gelengan kepalanya itu, dia teringat kata “Sayang”  yang diucapkan Jay saat dia menangis. Satu kata yang tidak pernah diucapkan Surya kepadanya. Namun bagi Arumi itu bukan rayuan,itu sepontanitas.
            “Ok, besok kamu…emm,hati-hati sajalah ! ”  kata Surya dengan nada datar pun ekspresi wajahnya sambil berlalu.
Arumi secepatnya menarik tangan Surya, agar langkah Surya terhenti “Mas, jaga hati…jangan sampai seperti dulu.” pinta Arumi serius sambil menatap tajam suaminya.
Surya hanya memandang Arumi, sesaat kemudian Surya mendaratkan kecupan di bibir Arumi, tersenyum kemudian berlalu.
Arumi diam mematung dan menyadari, itu adalah keromantisan yang disukai Arumi. Tanpa ucapan pun Arumi bisa memahami makna yang tersirat. Seulas senyum bahagia tersungging  di bibir Arumi.
Mars  oh  Mars rupanya kamu punya perasaan yang menonjol juga ,hanya saja kau bisa menghadangnya dengan logika dan gengsi tetapi kadang benteng logikamu tak cukup kuat,karena cinta dan cemburu....dan akhirnya  bila sudah begitu hanya beda tipis dengan Venus.  Yah, setidaknya sejak kemarin dan hari ini aku   melihatnya, pada Jay dan Mr, Surya Guritna.
 Kuatkan kami, agar kami semua bisa fokus pada kelancaran upacara pernikahan Re,bukan pada kerumitan perasaaan kami masing-masing. Takdirnya, kita harus berada dalam satu team, ini memang  tidak mudah...( menjelang pernikahan Re  )
**
             Setelah acara akad nikah selesai, kedua mempelai meninggalkan gedung untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Mbak Widya, ibu Yoga mendekati Arumi dan Surya dengan wajah tegang kemudian membisikkan sesuatu.
“Mbak  Widya sebaiknya kembali ke tempat duduk besan, saya akan mencari Mas Jay !” jelas Surya, nada suaranya sangat menenangkan. “Em..dan kalau bisa,tolong kondisikan,jangan sampai Re dan Yoga tahu !” imbuh Surya.
“Benar Mbak, yukk... !” imbuh Arumi sambil menggandeng lengan  Widya menuju kursi besan.
Widya membisu dengan raut wajah sedih. Arumi berusaha menenangkan kakak tertua Jay itu.
“Segitunya dia patah hati sama kamu, Rum !” kata Widya sambil memandang Arumi kemudian tersenyum kecut.
 Arumi membalas dengan senyuman “Mbak, Jay pribadi yang baik, tapi aku lebih cenderung menghormatinya.” tutur Arumi lirih sambil sedikit tertunduk.
Widya tetap  membisu, Arumi merasa serba salah, sesekali bibirnya bergerak-gerak melafazkan zikir sambil menggoyang-goyangkan kakinya mengusir perasaan kikuk dan cemas. Sesekali dia memanjangkan lehernya mencari Surya, tak sabar menunggu kabar dari Surya. Dua tiga pasang mata yang duduk di deretan besan bergantian memandang Arumi ,ada yang datar saja ,ada yang nampak heran ada pula yang sedikit sinis. Arumi merasa seperti terdakwa penyebab kepergian Jay. Arumi menguatkan hatinya agar mampu bersikap tenang.
Ketika Surya muncul,Arumi langsung menghampirinya. Saat mereka berhadapan, Surya justru menatap mata Arumi,seperti mencari sesuatu dari mata Arumi. Arumi balas menatap surya dengan raut wajah heran. Arumi membuang nafas  sambil menggelengkan kepala. Barulah kemudian Suya mengatakan bahwa berdasar ciri-ciri yang diberikan Surya kepada Satpam, Satpam melihat Jay pergi meninggalkan gedung menggunakan taxy ke arah Timur.
Arumi segera menghampiri Widya, membisikkan informasi itu pada Widya sambil kembali menenangkan Widya. Tak lama kemudian ,Re dan Yoga muncul dengan gaun yang berbeda menuju pelaminan. Suasana tetap meriah hingga acara berfoto tiba. Saat Mc memanggil paman-paman dari pihak Yoga untuk berfoto, Yoga dan Re baru menyadari paman kesanyangan mereka tidak terlihat.
**
Ternyata Jay sempat mengirim pesan pada Yoga dan Re. Pesan itu dikirim sekitar jam setengah delapan, selepas acara akad nikah. Dalam pesan singkat tersebut Jay  meminta maaf  tidak bisa mengikuti acara resepsi, dan mengatakan bahwa dia sedang berada di Bogor dan akan bermalam dua atau tiga hari lagi. Informasi itu segera disampaikan Yoga pada Surya via telepon. Surya berniat meneruskan informasi itu pada Arumi. Dia bergegas ke kamar
            “Lhoh..kok belum tidur  Sekar Marun? “ tanya Surya dengan nada sedikit bergurau  ketika mendapati Arumi masih melamun di ranjang. Arumi tetap diam, tidak menanggapi pertanyaan Surya.
            “Kok….kayaknya sedih banget ?” selidik Surya sambil mendekati Arumi.           
“Ya,Mas…aku sedih,malu,bingung menjadi tudingan penyebab menghilangnya Jay...ah sudahlah.” Arumi mengibaskan tangannya.
Surya hanya diam, namun ada perasaan  lega karena mampu mendeteksi perasaan istrinya. Sejak di gedung tadi, dia belum menemukan jawaban dari sorot mata Arumi.
            “Tadi Yoga memberi kabar, Jay sedang di Bogor !” kata Surya
            “Syukurlah kalau sudah ada kabar.. !” sahut Arumi singkat.
 Sebelum merebahkan tubuhnya, Surya memandang Arumi kemudian tersenyum simpul, bahagia. Arumi merasa heran  melihat sikap Surya.
            “Kenapa malah senyum sih ?” tanya Arumi sambil melempar bantal ke badan Surya dengan kesal.
“Seneng….sedihmu bukan karena kehilangan Jay ! ” jawab Surya kemudian menarik Arumi dalam pelukannya.
Hari yang bersejarah dalam hidup Re, mudah diingat karena ada kejadian menghilangnya salah seorang saksi nikah selepas akad nikah. Semoga tetap bertanggungjawab jika suatu saat Re dan Yoga menghadapi masalah, karena  saksi nikah bukan sebatas formalitas,saksi nikah juga memiliki tanggungjawab….
 (Di kamarku, di hari pernikahan Re,.... )
**
            Sore itu, sebuah mobil putih bersih meluncur di jalan raya yang sedang lengang,namun beberapa meter kemudian mobil itu menepi. Penumpang memberikan uang pada Supir, kemudian supir keluar menuju warung kopi di seberang jalan. Si penumpang termenung di dalam mobil, menatap langit senja dihadapannya kemudian menuliskan sesuatu di agendanya
Senja jingga, seolah kau mempersilahkan diriku untuk melukismu dengan sebuah pesan  “Kau akan melukisku sekarang atau kau biarkan aku pergi ?  walau esok akan ada senja lagi,namun belum tentu kau bisa melihatnya atau mungkin saja senja esok memiliki komposisi warna yang berbeda dengan hari ini.”
Senja, kau bertutur tentang keindahan dan kesempatan. Dan aku sadar,aku telah kehilangan keduanya. Namun penerimaan adalah pilihanku. Cukup sudah, semoga Tuhan tidak mengajakku bercanda lagi. Semoga Tuhan telah meluluskanku menjalani ujian ini. Aku menerima kehendak-Mu, kuatkanlah aku.
Sekitar sepuluh menit kemudian ….
            “Pak, saya sudah ngopi, terimakasih Pak, Bapak sangat pengetian !” kata supir
            “Sama-sama Pak, saya sambil menikmati langit senja itu Pak,cantik sekali !” kata Jay sambil tersenyum “
            “Wah…Bapak romantis ya…!” sahut supir taxy sambil terkikih, Jay hanya tersenyum.
Ok…kita meluncur ke Bandara ya, Pak!”
“Baik Pak ! Emm..,tadi Bapak bilang mau ke Singapur ya? mau berapa lama di Singapur Pak?”
            “Saya memang tinggal di sana Pak !”
            “Ohh…begitu, .. tinggal di Indonesia lagi saja Pak, saya siap jadi supir pribadi Bapak, hehe…. !”
            “Hehee..,ya Pak memang rasanya ingin tinggal di Indonesia saja,tapi saat ini harus di sana dulu ,Pak !” jawab Jay kemudian tersenyum namun seperti menahan rasa pilu.
            “Oh,karena pekerjaan ya Pak,?”
            “Ya Pak, pekerjaan berat hehee…do’akan saja saya kuat ya, Pak!” kata Jay kemudian tersenyum lagi.
            “Kuat apa Pak?”
            “Kuat untuk menerima takdir yang kadang tidak sesuai dengan keinginan ki…,Pak hati-hati Pak… Pak!… awas Pak!!  Innalillahi wainnailahi rojiun !!”
Darrrr !!!!…….dentuman keras membahana
**
Malam itu Fe datang  ke rumah Arumi sambil menenteng paper bag cantik berisi oleh-oleh dari Singapur. Mereka saling melepas rindu kemudian bertukar cerita. Fe menceritakan perjalanannya ke Singapur, Arumi menceritakan pernikahan Re dan Yoga.
 “Jadi....,sekarang kamu dan Jay udah kayak berbesanan ya ?!” tutur  Fe dengan mata berkilat. “Pasti kamu punya alamat keluarga Jay di Singapur !” kata Fe sambil menyeringai.
Arumi menatap Fe sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Fe malah terkekeh.
            “Ayolah Lady Rose, mana?..mana?..berikan alamat Jay padaku.” kata Fe sambil mengatungkan tangannya.
            “No, Fe !” jawab Arumi tegas.
            “Emmm…jadi bener nih kamu punya alamat keluarga Si ganteng itu, pancinganku kena deh…” kata Fe kemudian terbahak.
Arumi diam,merasa terjebak. Fe terbahak lagi.Arumi bertahan diam sambil memandang Fe, kesal.
“Ehhh..iya, waktu resepsi pernikahan Renata, tentunya kalian….ehmmm ? “ gurau Fe  sambil terkekeh
             “Mana mungkin … setelah akad nikah selesai tiba-tiba..…”
 Arumi terdiam, kemudian segera merapatkan bibirnya, hampir saja dia keceplosan menceritakan ada sebuah drama menghilangnya Jay usai akad nikah Re.
Heh….tiba-tiba kenapa? ” tanya Fe seketika sambil mengernyitkan dahinya
Arumi tertawa kecil “Kenak deh, ..satu sama, aku bisa gantian ngerjain kamu !” Fe ikut tertawa merasa kalah. Kamuflase yang dimainkan Arumi cukup cantik, Fe pun tak tergoda untuk mengulik lagi.
 “Percayalah Fe, nggak terpikirkan oleh kami untuk neko-neko.” tandas Arumi. Fe tersenyum
 “Hehee…aku masih kawanmu yang dulu Rum, yang sangat mengakui kejujuran seorang Arumi” jelas Fe sambil tersenyum .
            “Thank’s , Fe!” jawab Arumi membalas senyum.
Hening…Fe seperti sedang memikirkan sesuatu.
            “Fe, fokuslah pada penyelesaian masalahmu,please! jangan biarkan pikiranmu terkontaminasi oleh Jay lagi, ya ?!” tutur Arumi dengan nada suara yang lembut namun tegas. Fe memandang Arumi sambil tersenyum.
            “Rum,terimakasih atas konsistensimu melarangku memikirkan Jay…sebenarnya sejak tadi  aku hanya becanda, aku sudah berniat melupakan Jay dan Tuhan memberiku kekuatan…” jelas Fe kemudian menghela nafas “Sedikit-sedikit,aku bisa melupakannya..saat ini aku tidak terobsesi seperti dulu..aku sudah lebih tenang, Rum. “ jelas Fe dengan nada landai,kemudian tersenyum.
Arumi tertegun , menatap Fe dengan seulas senyuman dan binar mata bahagia.
“Aku semakin sadar Rum, pada umumnya yang disebut teman yang pengertian adalah  teman yang tidak mengendalikan hawa nafsu temannya,pembiaran diartikan sabar, pengertian dan penuh maklum…tapi kamu berbeda Rum, terimakasih.” tutur Fe sambil tersenyum,matanya  berkaca-kaca.     
Arumi mematung beberapa saat memandang Fe kemudian menghambur memeluk Fe, Fe balas memeluk Arumi erat,air mata mereka tak terbendung lagi.
**
Rahasia itu kadang indah
Tiba-tiba aku teringat kata-katamu itu Re….dan aku mengerti itu bukan berarti dusta, karena cinta enggan berdusta.
Dan semoga kau tetap berpikir,bahwa aku tidak mengetahui jika sebenarnya kau pernah jatuh cinta pada Mas Surya. Aku mengerti kau memang  tidak jatuh cinta pada  Ersa maupun Jay. Sekarang,kau sudah menemukan tambatan hatimu Re, aku bahagia.
Ya Tuhan, semoga Kau mencatat kami sebagai para penggenggam setia….setia akan ikrar kami sebagai hamba-Mu dan setia pada pasangan kami.
Namun…hari ini, mengapa perasaanku tak karuan, ada kesedihan yang tak bisa kudifdinisikan…, Jay,kau baik-baik saja ?

(Menjelang akhir tahun…,di Kastil Mawar Merah)



TAMAT




PROFIL PENULIS

Zakiyah Rosidah, lahir dan besar di Surakarta. Tanggal 3 Juli 1973. Pendidikan terakhirnya di perguruan tinggi  di Fakultas Pendidikan jurusan Pendidikan Dunia Usaha UNS.
Memiliki kegemaran menulis diary dan korespondensi sejak SD. Ketika sudah berkeluarga dan berputra ,dia masih suka menulis diary, puisi ,cerpen, atau menuliskan gagasan-gagasannya namun tidak ada yang dipublikasikan. Maraknya media sosial mendorongnya menulis di FB, Blog pribadi dan Kompasiana. Artikel opininya sempat mendapatkan beberapa kali Headline dan Terekomendasi di Kompasiana. Pernah terpilih dalam sepuluh besar lomba menulis cerpen Diva Press dengan tema Maret momen. Cerbungnya 7 episode dimuat di sebuah majal niihah wanita Potret ,Aceh. Pada cerbung itulah dia mulai menggunakan nama penanya, Amadia Raseeda.



BLURB

Arumi akhirnya membenarkan ucapan asisten rumah tangganya “Saya takut lukisan itu berbahaya ,Bu !”
Untaian cerita yang mampu mengaduk pikiran dan perasaan Arumi memang bermula dari lukisan itu, hingga Arumi,wanita berintuisi tajam itu jatuh sakit dan mengalami pengangkatan rahim. Bukan perkara sepele bagi seorang wanita, apalagi Arumi mengerti Surya ingin memiliki banyak anak.

Dan…kesempatan untuk berselingkuh terbuka lebar bagi Arumi dan Jay, yang mengagumi Arumi sejak kuliah. Namun ternyata mereka tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu,mengapa?  Sementara Fe,sahabat Arumi justru menginginkan mendapat kesempatan itu. Jay memang seniman yang penuh pesona.

Sementara itu, Arumi akhirnya sadar bahwa Re, teman yang sudah seperti adiknya sendiri,jatuh cinta pada Surya suaminya,namun Arumi bertahan tenang. Mengapa?

Apa saja yang ditulis Arumi dalam catatan-catatan kecilnya? Mungkin jawabnya ada di sana.









Senin, 04 November 2019

Senyum Sang Guru


Sejak saat itu, ambisinya untuk membuat karya indah kian meruang. Namun, seolah sang ide bergegas pergi, mood meleleh.  Tumpukan buku, majalah hingga komik tak jua membuat syaraf otaknya menemukan sambungan hingga mulutnya bisa berucap  “ Eureka!” . Coklat, kacang almond hingga tiga tangkai yellow daffodils  yang sengaja diletakkan di mejanya dalam vas bening tinggi hexagonal tak jua membangkitkan moodnya.
Angin berpuput menyentuh kulitnya. Kini dia berpikir tentang alam; angin,burung yang berwarna coklat atau hijau zaitun, gemawan aneka bentuk, kabut, sungai, pepohonan, tanah coklat, hamparan anemone merah. Tiba-tiba muncul kembali seraut wajah dengan  senyum ketenangan. Menyeruak  diantara lukisan imaginernya.
            “ Guru Tali Jiwo !” gumamnya.
 Ambisinya kembali meruang, meranapkan semua lukisan imaginernya. Sejak setahun yang lalu, gurunya hijrah ke sebuah desa yang masih asri.
Dia bergegas….

**
“ Guru, bantulah aku ! Berapapun yang kau inginkan aku berusaha memenuhinya asal kau buatkan aku sebuah karya yang indah  !” jelasnya sambil duduk bersila dihadapan gurunya yang juga duduk bersila.
Tali Jiwo tersenyum, dia mulai menghirup aroma teh sambil memejamkan matanya. Sang murid memandangnya dengan raut tidak sabar, menunggu jawaban.
Sudah ke tiga kalinya dia menemuinya  dengan maksud yang sama, tetapi Tali Jiwo selalu menolak secara halus.
“ Guru, mengapa sejak tadi guru tidak segera meminum teh itu?”
Tali Jiwo kembali tersenyum, kini matanya terbuka dan menatap muridnnya dengan tajam.
“ Dengar Nak, segala hal membutuhkan proses dan menikamati sebuah proses adalah salah satu bentuk kebijaksanaan dan kesabaran !”
Sang murid diam, Tali Jiwo mulai menyeruput teh dari cangkir kaleng bercorak doreng hijau putih.
“Walau sekedar menikmati secangkir teh !” tambahnya.
Sang murid hanya diam namun tampak seiris tipis kegelisahan  yang mulai mengendap-endap. Dia mengaitkan jemari dari dua tanganya. Sementara di luar padepokan itu, petang mulai menjawat terang.
“Bagaimana Guru ?”
Tali Jiwo kembali tersenyum. Dia bangkit dari tempat duduknya, melipat tangannya di dada, melepas pandangannya sejauh mungkin dari rumahnya yang terletak di atas sebuah bukit penuh bunga. Sementara Sang murid mengikutinya dengan pandangan mata saja, dia masih duduk ditempatnya menanti jawaban.
“Sebelumnya, aku ingin bertanya  !” kata Tali Jiwo dengan intonasi datar
“Silahkan guru…!”
“Apakah kau sudah berusaha membuat sebuah karya dari tanganmu sendiri?”
“Sudah guru, namun kemudian macet. Semua ide seolah bersembunyi!”
“Mengapa bisa demikian ?”
“Emmmm…emmmm entahlah guru !”
“Coba kau ingat baik-baik….!” kata Tali Jiwo dengan tegas, Sang murid tampak grogi sambil berusaha mengais-ngais ingatannya.Namun dia tak jua menemukan jawaban.
“Baiklah kubantu mengingat… ketika ide itu mulai mendekat, apa yang kau pikirkan?”
“ Aku  sangat bahagia, aku segera menulis kemudian aku  membayangkan aku akan menjadi terkenal dengan karyaku..!” jelasnya.
“ Emmm…itulah  yang membunuh ide kreatifmu , Nak !” kata  Tali Jiwo , Sang murid hanya tertunduk pipinya sedikit panas.
“ Ya sudahlah…lalu, siapkah kamu dengan segala resikonya bila aku memenuhi permintaanmu?” tanya Tali Jiwo kemudian, pandangan matanya masih pada obyek yang sama.
“Resiko? Ah..Guru bercanda, resiko yang sangat menyenangkan bukan? tentu saja aku siap Guru !” jawabnya sambil tersenyum kemudian menghampiri gurunya. Tali Jiwo bergeming.
“ Pulanglah, ku kabulkan permintaanmu !”
Sang murid bergegas pergi,
**
Beberapa bulan kemudian….
“Guru, mengapa guru tidak memperbaiki rumah guru? bukankah…. !”. Sang murid merasa sungkan melanjutkan …
“ Lau akan mengatakan….bukankah kau telah memberikan sejumlah uang yang banyak padaku karena aku menulis sebuah karya indah untukmu?” tanya Tali Jiwo
Sang murid mengangguk perlahan, tak berani menatap mata Sang Guru. Tali Jiwo tersenyum.
“Aku sangat menikmatinya Nak !” jelasnya kemudian.
“T…tapi, mengapa eh…maaf, mengapa rumah guru masih saja seperti ini? “ tanya Sang murid memberanikan diri.
 Tali Jiwo lagi-lagi hanya tersenyum. Sesaat kemudian..
“Mari ku tunjukkan sesuatu ..!” ajalnya sembari bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar , menaiki bukit .
“Guru, kita akan kemana?” tanya Sang Murid.
Tali Jiwo terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan muridnya. Beberapa saat kemudian dia berhenti di sebuah rumah berdinding bambu namun lebih indah dibanding rumahnya.
“Lihatlah !” kata Tali Jiwo sambil tersenyum.
“Ohh..jadi Guru sudah membuat rumah baru ini? Mengapa Guru tidak segera menempatinya?” tanya Sang murid.
“Ini bukan rumahku !” jawab Tali Jiwo . Si murid mengerutkan keningnya.
Sebelum Sang Murid memberondongnya dengan pertanyaan, Tali Jiwo menambahkan…
“Sejumlah uang  yang kau berikan beberapa waktu yang lalu, kugunakan membangun padepokan ini, mari masuklah !” Tali Jiwo bergegas membuka pintu rumah itu meninggalkan Sang Murid  yang masing mematung.
Beberapa buku tertata rapih di rak-rak dari kayu jati yang kokoh. Ada sebuah peta dunia yang besar tertempel di dinding. Hanya ada beberapa meja dan kursi, selebihnya hanya hamparan tikar pandan yang menebar aroma harum yang eksotik.
“Setiap hari ada saja yang datang ke padepokan ini, terutama anak-anak muda..saya sangat bahagia dan yang lebih menggembirakan, mereka sangat antusias ketika ku tawarkan pada mereka tentang  ketrampilan menulis. Hampir setiap hari mereka datang untuk membaca buku dan belajar menulis .”
Tali Jiwo tersenyum, Si Murid membisu. 

Tali Jiwo tersenyum getir benaknya berkata…
Biarlah, aku menuruti kemauan satu murid yang berambisi asalakan aku bisa membimbing puluhan  murid yang sangat menikmati sebuah proses. Mungkin baru sampai disitulah perjalanan batinnya…semoga dengan pengalaman  yang baru saja diihatnya, dia akan berubah.



Solo 2012

Jumat, 01 Februari 2019

Batas Pandang Mata Kepala


Talita merasa kesal melihat Evita  duduk-duduk saja  sambil memandangi taman dari balik jendela kamar.

" Ahh, aku sayang melewatkan waktu tanpa melakukan sesuatu...tanpa menghasilkan sesuatu...."
Kata Talita selepas mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.Tak lama kemudian menyambar rajutan tas yang belum kelar.

Evita hanya tersenyum tipis, kemudian melanjutkan acaranya, yakni melamun.
Gemericik hujan tipis-tipis, daun hijau,daun kuning, bau tanah, angin yang menyentuh kulitnya seolah semua itu masuk dalam jiwanya menjadi rajutan keindahan yang membuat jiwanya segar dan bugar. Perasaan syukur yang dalam melesak dalam sanubarinya. Betapa, selama ini dia terlalu banyak melewatkan nikmat Tuhan, begitu bisiknya dalam hati.

Melihat serombongan semut menggotong makanan bersama, hati Talita tersentak.

Melihat burung-burung kecil beterbangan mencari rumput kering untuk jadikan sarang, hatinya bergetar.

Talita masih dengan kesibukannya, sesekali melirik Evita dengan perasaan kesal. 

"Heh....,kamu itu...jangan kebanyakan melamun, ga baik, ga manfaat, kerasukan setan lohhh kamu nanti !"

"Masak sih....?" kata Evita santai

"Iya,melamun tu ga baik. Ayo bergerak,lakukan sesuatu hasilkan sesuatu !" kata Talita

"Aku menghasilkan sesuatu kok !" kata Evita

"Ahh,kamu ngacoo....mana,kamu menghasilkan apa?" Tuu kan kerasukan setan nih...!"

Evita hanya tersenyum dan membatin, sebenarnya,siapa yang kerasukan setan?

πŸ€πŸπŸŒΉπŸŒΈπŸŒΌπŸŒ»πŸŒΎπŸŒΏ

Setiap orang membacamu dengan pengalaman dan pemahaman yang berbeda...

Mempertajam pandangan mata batin sangatlah bijak dalam gelombang materialism yang kian dahsyat ...

Karena Cinta Enggan Berdusta 4

8. PENGGENGGAM SETIA             Menurut Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re, tidak mempermasa...