Minggu, 18 Juni 2017

Konspirasi Yang Indah ( 1 )

Mereka sudah mantap untuk menikah tiga bulan setelah perkenalan singkat dan tak terencana dalam sebuah komunitas pengusaha muslim. Perkenalan mereka segera di jembatani kawan Faisal yang juga kawan Wulan. Sayang, orangtua masing-masing tidak menyetujui  karena alasan klasik, berbeda suku.  Berbagai alasan orangtua yang bepijak pada adat dan perasaan di babat habis oleh hujjah mereka yang sangat  islami dan masuk akal.
Seorang Rasul pun bersedia menikahi wanita dari kalangan bukan bangsawan atau bukan berstatus sosial tinggi. Karena Rosul adalah orang yang paling memahami firman Allah, bahwa Allah memandang kemuliaan seseorang dari ketakwaannya, bukan dari yang lain. Dua bulan lebih mereka saling melobi orangtua masing-masing bahkan meminta ustadz mereka menjadi mediator. Namun orangtua masing-masing tetap bersikukuh pada pendiriannya. Niat suci mereka laksana air bah yang tidak dapat di bendung, akhirnya mereka mengatakan pada orangtua masing-masing  bahwa mereka akan tetap menikah walau tidak disetujui karena mereka sedang berniat melaksanakan niat suci, baik dan benar, niat melaksankan separuh dari ibadah dan melakukan sumpah yang setara dengan sumpah pengangkatan rasul, mistaqon gholidon.  Sebenarnya itu hanyalah gertak sambal mereka, tetapi rupanya orangtua masing-masing akhirnya  menyerah. Dan berniat tetap datang di acara pernikahan mereka. Dari pada membuat noda dalam sejarah keluarga masing-masing yang notabene sama-sama keluarga berstatus sosial tinggi. Pernikahan berbeda suku akan lebih dimaklumi daripada kawin lari, pikir orangtua masing-masing.
Sekarang, usia pernikahan Faisal dan Wulan memasuki tahun ke tempat. Mereka telah di karuniai seorang putri. Mereka menyandang gelar “pasangan serasi ” dan “pasangan ideal” baik di kalangan keluarga besar masing-masing maupun di kalangan teman dan tetangga. Mereka juga berhasil merekatkan hubungan antar keluarga berbeda suku itu dengan sangat sangat cerdas. Bahkan, di luar dugaan hubungan antar besan itu menjadi hubungan bisnis. Keluarga Faisal memiliki bisnis kuliner sementara keluarga Wulan memiliki sebuah penginapan. 
**
Selain menawarkan kenyamanan, penginapan “Wulandari”  sekarang menawarkan kelezatan hidangan sebagai daya tarik tersendiri. Setiap hari mereka menawarkan menu makan malam “andalan”.  Wulan mempercayakan pada ibu Faisal yang memilki rumah makan di  Jakarta bahkan sudah memiliki dua cabang. Hampir satu tahun Rumah Makan Andalan melayani pesanan khusus dari Penginapan Wulandari. Sayang, hubungan antar besan yang kian harmonis tidak di barengi keharmonisan kehidupan rumah tangga anak-anak mereka. Badai kecil sedang menghantam bahtera. Nahkoda kurang stabil, penumpang pun menjadi labil.
Sebenarnya Hasto bukanlah mantan kekasih Wulan di masa kuliah. Dia hanya tertarik pada Wulan. Hasto menyadari, latar belakang keluarganya dengan keluarga Wulan seperti bumi dan langit. Jauh api dari panggang, bahkan salah satu kawan Hasto meledeknya dengan kalimat “seperti Pungguk merindukan Wulan”. Kejam nian. Sementara itu, Wulan sebenarnya tidak mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tidak prinsip semacam itu walaupun kata “ningrat” hampir setiap hari menyusup ke dalam lubang telinganya dan akhirnya bertengger di lipatan otaknya. Tetapi sungguh tidak sampai mengikuti aliran darahnya dan tak menjadi bagian dari desah nafasnya. Jiwanya sangat merdeka. Baginya setiap manusia istimewa, karena manusia di ciptakan bukan karena iseng-iseng Allah semata. 
Hasto, sebenarnya pribadi yang cukup menarik hati Wulan. Ramah, supel tetapi bisa menjaga kesopanan, prestasi akademisnya pun lumayan, postur tubuhnya sedang saja, wajahnya tidak terlampau ganteng tetapi menurut Wulan, Hasto cukup karismatik. Kabar ketertarikan Hasto pada Wulan sampai ke telinga Wulan melalui salah satu kawannya , hal itu sempat membuatnya bahagia dan tersanjung. Namun menurut analisa Wulan, Hasto tidak pernah bersungguh-sungguh mendekatinya. Sebenarnya Hasto sudah cukup mengerti bagaimana pemikiran Wulan tentang perbedaan status sosial. Namun nyali Hasto menciut ketika berpikir bahwa dirinya harus berhadapan dengan keluarga Wulan. Akhirnya rasa itu menyublim seiring kesibukan masing-masing. Hasto aktif dalam kegiatan kemahasiswaan sementara Wulan terlibat dalam bisnis orangtuanya yaitu penginapan.
Sengaja penginapan itu di beri nama Wulandari agar kelak Wulan sebagai anak tertua dari empat bersaudara itu merasa ikut memliki bisnis itu, demikian kata ayah Wulan. Dan kenyataannya memang benar, sejak pertengahan masa kuliah Wulan mulai dilibatkan dalam pengelolaan penginapan itu dan semakin banyak terlibat menjelang akhir perkuliahan. Sampai saat ini, Wulan masih menjadi teman diskusi yang sangat baik bagi oranguanya. Walau sudah memiliki bisnis sendiri, secara berkala Wulan masih mengunjungi penginapan orangtuanya. Mencoba mencermati hal-hal kecil yang kadang bisa di jadikan hal besar. Kehebatan Wulan, dia  selalu saja bisa memunculkan ide-ide unik yang menarik pengujung penginapan. Entah dengan sentuhan dekorasi yang unik, entah dengan menu sangat spesial yang hanya ada untuk satu hari saja. Satu idenya yang cukup brilian dan keibuan adalah menyediakan semacam foodcourt dan pijat khusus bayi  dan anak. Karena idenya itu, pengunjung penginapa Wulandari melonjak drastis. Selain membantu mengurus usaha penginapan itu, Wulan juga memiliki bisnis pribadi, yaitu bisnis tanaman hias.
        Siang itu Wulan datang ke penginapan orangtuanya, berkencan dengan salah seorang temannya untuk membicarakan satu hal yang tak jauh-jauh dari proses realisasi ide gilanya untuk bisnisnya, kegiatan sosial dan kegiatan keagamaannya.  Hampir lima belas menit Wulan menunggu namun kawannya belum juga muncul  dengan alasan macet. Jo, salah satu pegawai penginapan yang cukup berprestasi langsung  menodong Wulan agar mengeluarkan ide-ide gilanya.

        “Nanti dulu Jo,  aku kemari untuk bertemu temanku !” ,   jawab Wulan sambil duduk di sofa beberapa meter dari resepsionis.  

        “Wah mau bikin bisnis baru nih Mbak, nunggu siapa Mbak ?”, tanya Jo ingin tahu.

“Aku nunggu Bu Shanti, ini urusan pendidikan kok Jo. “ jawab Wulan sambil tersenyum.  

“Emm...mau bikin sekolah Mbak?” gurau Jo sambil menyeringai. Wulan terkekeh.  

Perhatian Jo beralih, mengamati serombongan tamu yang datang . Wulan membolak-balik buku yang sejak tadi di tanganny, tetapi kali ini caranya membuka lembaran buku tampak malas. Dia melirik jam tangan bulat warna perak yang menempel di tangannya yang berkulit sawo matang. Hampir setengah jam dia menunggu tetapi Shanti belum juga kelihatan batang hidungnya. Rasa bosan mulai menerobos, dia mengambil hp  dari tasnya kemudian menghubungi Shanti tetapi Hp Shanti tidak aktif.  Akhirnya dia memutuskan membuka sosmednya yang sudah satu bulan lebih tak sempat  di tengoknya. Sesekali dia merapikan pasmina lebarnya sambil menedarkan pandangannya, mencari Shanti.  

        “ Wulan ! ”  sapa seseorang .

Wulan mengangkat wajahnya, “ Eh...!” ucapnya kaget,seketika alisnya mengkerut   “ Hasto?” tanya Wulan sambil menunjukkan jarinya ke arah Hasto. Hasto yang sekarang berjidat lebar tertawa lebar sambil mengangguk.”Apa kabar Has ?” 

“Baik,.... baik !” jawab Hasto sedikit salah tingkah, tetapi matanya berbinar cerah. Tak mempedulikan beberapa kawannya sempat memperhatikannya, namun kemudian mereka  segera menuju kamar, seolah sudah tak tahan ingin membaringkan tubuh.

Sorot kekaguman di mata Hasto pada Wulan belum pudar. Sementara, sorot mata Wulan hanya memancarkan kekagetan bersua kawan lama tanpa sengaja. Wulan mempersilahkan Hasto duduk. Menanyakan kabar masing-masing, tentang pekerjaan, anak, tempat tinggal dan Hasto cukup tertegun ketika Wulan menceritakan bahwa suaminya bukan dari kalangan ningrat bahkan mereka berbeda suku. Hasto sempat kelepasan mengungkapkan penyesalannya,mengapa dia tidak berani maju saja saat itu. Wulan hanya tersenyum mendengar hal itu, tidak meninggalkan perasaan apapun selain ucapan klise tetapi selalu menghibur, bukan jodoh.
Sekitar lima belas menit kemudian Faisal muncul. Roman mukanya seketika berubah melihat mereka sedang mengobrol, tampak akrab sambil sesekali tertawa. Wulan menghela nafas pendek ketika dari kejauhan ekor matanya  menangkap wajah suaminya yang kurang sedap.

“Kenalkan Has, ini suamiku !” kata Wulan sambil tersenyum dan memandang suaminya dengan ekspresi bangga. “ Kenalkan Bang, dia teman kuliahku !”

Hasto mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri. Faisal memasang senyum yang sangat di paksakan. Beberapa detik kemudian masing-masing terperangkap  dalam kecanggungan. Namun Hasto segera mencairkan suasana dengan pertanyaan ramah tamahnya pada Faisal. Beberapa menit kemudian Hasto berpamitan menuju kamarnya. 
Detak jantung wulan meningkat, saat beberapa menit berlalu namun roman muka Faisal kembali  beku, tak sedap. Logika memang  kadang tak mampu memburu cemburu apalagi membunuhnya. Faisal  tak juga  menemukan selasa jiwa walau Wulan sudah berusaha mencairkan suasana dengan sedikit rayuan manjanya. 

        “Sorot matanya kelihatan. Dia menyukaimu kan ?” kata Faisal tiba-tiba. Wulan terbelalak. Namun berusaha menguasai dirinya dengan menarik nafas perlahan.

        “Kabarnya begitu Bang, dulu pernah naksir aku !” jawab Wulan sambil tertawa hehe.

“Kamu juga suka kan?” tuduh Faisal, matanya tertuju pada lorong menuju kamar-kamar penginapan.

“Emm...bisa saja di sebut suka, tetapi belum bisa dikatakan cinta!” tukas Wulan cerdas.

        “Kenapa kalian bisa bertemu di sini?” selidik Faisal. Wulan kembali terbelalak.

Wulan menjelaskan  apa yang terjadi. Namun Faisal masih ragu dan mulai menanyakan dimana Shanti. Wulan tidak bisa memberi penjelasan detail karena Shanti memang tidak memberi kabar lagi setelah mengatakan bahwa dia sedang terjebak macet. Bahkan Hp Shanti tidak bisa dihubungi dan kenyataannya Shanti juga tidak muncul sampai Faisal menjemput Wulan.  Faisal justru mendapati Wulan sedang mengobrol akrab dengan Hasto.
Sebenarnya, setelah peristiwa itu Faisal sudah kembali bersikap biasa saja dan mereka baik-baik saja. Tetapi sekitar seminggu kemudian, tiba-tiba tema itu kembali muncul ke permukaan. Malam itu, selepas makan malam, tiba-tiba Faisal bertanya pada Wulan, apakah Wulan berteman dengan Hasto di media sosial. Wulan menjawab dengan jujur bahwa dia memang berteman dengan Hasto. 

“ Lebih baik kau unfriend saja !” kata Faisal tegas sambil menatap Wulan tajam kemudian meninggalkan meja makan.

“Bang, jangan pergi dulu !” pinta Wulan dengan suara bergetar karena kaget dan bercampur takut. 

Tidak biasanya Faisal besikap demikian, bahkan baru kali ini Faisal nampak sangat marah. Walau Faisal memang tipikal tegas, tetapi Wulan merasakan hal yang berbeda dengan intonasi ucapan Faisal. Dia segera berlari mengejar suaminya yang menuju teras.

        “Bang, ada apa sebenarnya?”

        “Emm.....ya, itu saja !  unfriend si Hasto !”

        “Ok, itu hal mudah, tapi kenapa sikap Abang aneh begitu, aku tidak suka dengan sikap Abang!” protes Wulan. 

        “Ya, aku juga tidak suka kalau kamu berteman dengan Hasto di media sosial , ngerti?”

        “Oke..oke, tapi alasannya apa, tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa, aku butuh penjelasan !” desak Wulan
.
        “Kamu berkomunikasi dengan Hasto lewat inbox FB kan?” 

        “ Ya, dia pernah menanyakan kabar, itu saja...tidak lebih. Dan entah sudah berapa tahun yang lalu !” 

        “Nahhh, itu...hati-hati saja. Segera unfriend dia!”  suara Faisal sedikit meninggi.

        “Ya Bang, tapi...aku masih belum mengerti,mengapa sikap Abang jadi aneh, jangan-jangan ini hanya alasan abang saja untuk mencari gara-gara !”

 Bersambung ...

#NulisRandom2017
#Harike198



Senyum Sang Guru




Sejak saat itu, ambisinya untuk membuat karya indah kian meruang. Namun, seolah sang ide bergegas pergi, mood meleleh.  Tumpukan buku, majalah hingga komik tak jua membuat syaraf otaknya menemukan sambungan agar mulutnya bisa berucap  “ Eureka!” . Coklat, kacang almond hingga tiga tangkai yellow daffodil  yang sengaja diletakkan di mejanya dalam vas bening tinggi hexagonal tak jua membangkitkan moodnya.
Angin berpuput menyentuh kulitnya. Kini dia berpikir tentang alam; angin,burung yang berwarna coklat atau hijau zaitun, gemawan aneka bentuk, kabut, sungai, pepohonan, tanah coklat, hamparan anemone merah. Tiba-tiba muncul kembali seraut wajah dengan  senyum ketenangan. Tiba-tiba menyeruak  diantara lukisan imaginerny sosok yang nyata,

            “ Tali Jiwo !” ucapnya

 Ambisi meranapkan semua lukisan imaginernya. Dia bergegas….

**

“ Guru, bantulah aku ! Berapapun yang kau inginkan aku berusaha memenuhinya asal kau buatkan aku sebuah karya yang indah  !” pintanya sambil duduk bersila dihadapan gurunya yang juga duduk bersila.

Tali Jiwo tersenyum, dia mulai menghirup aroma teh sambil memejamkan matanya. Sang murid memandangnya dengan raut tidak sabar, menunggu jawaban.
Sudah ke tiga kalinya dia menemuinya  dengan maksud yang sama, tetapi Tali Jiwo selalu menolak secara halus.

“ Guru, mengapa sejak tadi guru tidak segera meminum teh itu?”

Tali Jiwo kembali tersenyum, kini matanya terbuka dan menatap muridnnya dengan tajam.

“ Dengar Nak, segala hal membutuhkan proses dan menikamati sebuah proses adalah salah satu bentuk kebijaksanaan dan kesabaran !” 

Sang murid diam, Tali Jiwo mulai menyeruput teh dari cangkir kaleng bercorak doreng hijau putih.
“Walau sekedar menikmati secangkir teh !” tambahnya. 

Sang murid hanya diam namun tampak seiris tipis kegelisahan  yang mulai mengendap-endap. Dia mengaitkan jemari dari dua tanganya. Sementara di luar padepokan itu, petang mulai menjawat terang.

“Bagaimana Guru ?”

Tali Jiwo kembali tersenyum. Dia bangkit dari tempat duduknya, melipat tangannya di dada, melepas pandangannya sejauh mungkin dari rumahnya yang terletak di atas sebuah bukit penuh bunga. Sementara Sang murid mengikutinya dengan pandangan mata saja, dia masih duduk ditempatnya menanti jawaban. 

“Sebelumnya, aku ingin bertanya  !” kata Tali Jiwo dengan intonasi datar

“Silahkan guru…!”

“Apakah kau sudah berusaha membuat sebuah karya dari tanganmu sendiri?”

“Sudah guru, namun kemudian macet. Semua ide seolah bersembunyi!”

“Mengapa bisa demikian ?”

“Emmmm…emmmm entahlah guru !” 

“Coba kau ingat baik-baik….!” kata Tali Jiwo dengan tegas, Sang murid tampak grogi sambil berusaha mengais-ngais ingatannya.Namun dia tak jua menemukan jawaban.

“Baiklah kubantu mengingat… ketika ide itu mulai mendekat, apa yang kau pikirkan?”

“A,,,aku, aku  sangat bahagia, aku segera menulis kemudian aku  membayangkan aku akan menjadi terkenal dengan karyaku..!” jelasnya.

“ Emmm…begitu ya? Dengar, ambisi bisa membunuh inspirasi!” kata  Tali Jiwo , Sang murid hanya tertunduk pipinya sedikit panas.

“ Ya sudahlah…lalu, siapkah kamu dengan segala resikonya bila aku memenuhi permintaanmu?” tanya Tali Jiwo kemudian, pandangan matanya masih pada obyek yang sama.

“Resiko? Ah..Guru bercanda, resiko yang sangat menyenangkan bukan? Tentu saja aku siap Guru !” jawabnya sambil tersenyum kemudian menghampiri gurunya. Tali Jiwo tak bergeming.

“ Pulanglah, ku kabulkan permintaanmu !” 

Sang murid bergegas pergi.

**

Beberapa bulan kemudian….

“Guru, mengapa guru tidak memperbaiki rumah guru? Bukankah…. .” Sang murid merasa sungkan melanjutkan …

“Bukankah kau telah memberikan sejumlah uang yang banyak padaku karena aku menulis sebuah karya indah untukmu?”  tanya Tali Jiwo

Sang murid mengangguk perlahan, tak berani menatap mata Sang Guru. Tali Jiwo tersenyum. 

“Aku sangat menikmatinya Nak !” jelasnya kemudian.

“T…tapi, mengapa eh…maaf, mengapa rumah guru masih saja seperti ini? “ Tanya Sang murid memberanikan diri.

 Tali Jiwo lagi-lagi hanya tersenyum. Sesaat kemudian..

“Mari ku tunjukkan sesuatu ..!” katanya sembari bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar , menaiki bukit .

“Guru, kita akan kemana?”  tanya Sang Murid. 

Tali Jiwo terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan muridnya. Beberapa saat kemudian dia berhenti di sebuah rumah berdinding bambu namun lebih indah dibanding rumahnya. 

“Lihatlah !” kata Tali Jiwo sambil tersenyum. 

“Ohh..jadi Guru sudah membuat rumah baru ini? Mengapa Guru tidak segera menempatinya?” tanya Sang murid.

“Ini bukan rumahku !” jawab Tali Jiwo . Si murid mengerutkan keningnya.

Sebelum Sang Murid memberondongnya dengan pertanyaan, Tali Jiwo menambahkan…

“Sejumlah uang  yang kau berikan beberapa waktu yang lalu, kugunakan membangun padepokan ini, mari masuklah !” Tali Jiwo bergegas membuka pintu rumah itu meninggalkan Sang Murid  yang masing mematung. 

Beberapa buku tertata rapih di rak-rak dari kayu jati yang kokoh. Ada sebuah peta dunia yang besar tertempel di dinding. Hanya ada beberapa meja dan kursi, selebihnya hanya hamparan tikar pandan yang menebar aroma harum yang eksotik.

“Setiap hari ada saja yang datang ke padepokan ini, terutama anak-anak muda..saya sangat bahagia dan yang lebih menggembirakan, mereka sangat antusias ketika ku tawarkan pada mereka tentang  ketrampilan menulis. Hampir setiap hari mereka datang untuk membaca buku dan belajar menulis .”

Tali Jiwo tersenyum, Si Murid membisu. 

Tali Jiwo tersenyum getir benaknya berkata…

Biarlah, aku menuruti kemauan satu murid yang terlalu berambisi asalkan aku bisa membimbing puluhan  murid yang sangat menikmati sebuah proses. Mungkin baru sampai disitulah perjalanan batinnya…semoga dengan pelajaran yang baru saja dilihatnya, dia akan berubah.


#NulisRandom 2017
#Harike18

Jumat, 16 Juni 2017

Kisah Sebutir Pala



Di sebuah komplek perumahan...

“ Jo, buah palanya lupa !” kata seorang Ibu sambil menepuk ringan jidatnya “ Padahal ini yang paling penting!” imbuhnya

“ Berapa butir Bu?”

“ Tiga butir,sekalian buat setok !”


Satu jam kemudian pedagang sayur keliling sudah berada di blok sebelah.  Ada lagi seorang Ibu yang membeli bahan-bahan untuk memasak soto.

“Palanya nggak Bu?”

“Pala? Nggak lah Bang..Soto ga pakai pala!”

“O…kalau Ibu di blok sebelah pakai Bu!”

“Oh..masak sih hehe, saya nggak kok Bang!”

Setelah membayar , Ibu itu bergegas pulang.

Satu jam kemudian, pedagang sayur sudah sampai di blok berikutnya

“Bahan-bahan soto masih ga Jo?”

“Masih Eyang,hmm…hari ini banyak yang masak soto ya!”

“O,ya? “ jawab Eyang singkat sambil memilih bahan-bahan yang dibutuhkan.
“Nih..hitung Jo !”

“Eyang…,bumbunya kurang satu,  palanya belum lho!”

“Pala? Pala lu kali Jo !” kata Eyang sambil mendelik

Tukang sayur itu tertawa, sudah hafal dengan pelanggannya yang satu ini. Sedikit cerewet,galak tapi baik hati.

“Emang tau dari mana kamu, soto pakai pala ?”

“Ibu di depan sana tadi Eyang  !”

" resep dari mana?  Apa hasil mencari di internet ya?”

“ Kali aja Eyang..sekarang kan jamannya tanya Eyang Google…ehhh !!  Tapi bisa jadi resep rahasia loh Eyang  !”

“ Hehhh..sok tau kamu Jo!”

“ Lhohh, Eyang ini,saya ngomong  bukan tanpa alasan lho !”

“ Eeee…gaya ! coba apa alasannya?”

“ Ibu yang belanja bahan-bahan soto pakai pala tadi tu, kalau lihat wajahnya bukan orang Indonesia asli lho, Eyang. Kayak wajah-wajah India gitu Eyang. Mungkin saja, Soto India pakai pala  !"

“ Tapi India apa ada soto,Jo ?!” kata Eyang sambil mendelik dan membetulkan letak kacamatanya. Jo nyengir.
Eyang menoyol kepala pedagang sayur yang usianya sebesar cucu sulungnya kemudian bergegas masuk rumah.

” Makasih yaaa Eyang !” ujar Jo  sambil mendorong gerobak sayurnya

“ Ya ati-ati, jangan sok tahu kamu !”  kata Eyang tanpa menoleh lagi.

##

Satu jam kemudian….lagi-lagi pelanggan Sarjono di blok berikutnya lagi  ada yang mencari bahan memasak soto.

“ Sudah nih Bu?”

“ Sudah Bang, sebagian bumbu sudah ada !”

“ Pala sudah ada belum?”

“ Pala? Buat apa Bang ?”

“ Buat masak soto India!”

“ Ha??, tayu dari mana Bang?”

“ Tadi pelanggan di blok paling depan,ada orang keturunan India, masak soto pakai pala!”

“ Ohhh…gitu ya ?!"

##

Dua bulan kemudian….

Sarjono menghentikan motornya di depan sebuah warung kopi. Setelah memesan secanggir kopi hitam, dia duduk santai sambil mengamati jajaran kios-kios baru di sebrang jalan. Tiba-tiba matanya melotot ketika membaca “SOTO INDIA”

“ Nahhh…bener,kan berarti..soto india itu adaaa!” gumamnya pelan

“ Ngapain Bang ngonong sendiri?” tanya pedagang warkop sambil meletakkan kopi di hadapan Sarjono.

“ Itu ,soto india ,buka sudah berapa lama Mang?”

“ Emm..sekitar dua minggu lah! Kenapa, pengen nyoba? “

Sarjono mulai bercerita perjalananya saat menjadi tukang sayur keliling. Mamang penjual kopi hanya manggut-manggut.

“ Ga salah kan saya Mang nooh…ada soto india ! “ katanya sambil menunjuk kios itu.Bangga.

##

Satu minggu kemudian.

" Lhohh,Jo..kok sekarang ga jualan sayur ?"

" Ehh, Ibu..lama tak jumpa ! Iya Bu,saya ganti kerjaan ! Oya Bu, ituuu...warung Soto itu milik Ibu ya? "  kata  Jo sambil menunujuk Warung Soto India

" Bukan ! Soto India ? Emang ada ya Soto India?"

"Lohh, emangnya ga ada Bu? Soto India kan pakai pala, saya ingat waktu itu Ibu belanja bahan Soto dan Ibu balik lagi karena kelupaan beli pala !"

"Lhoh tapi aku masak soto ga pernah pakai pala Jo, aku pakai resep soto Indonesia kok ! " jelas Ibu itu.

"Lha dulu Ibu beli pala buat apa?"

Ibu itu mengingat-ingat " Ohhh, yaaa yaaa,aku ingat Jo,itu buat obat kok,manfaat pala kan banyak,ga cuma buat bumbu ! Sudah Ah, ini ngapain malah bahas pala ! Ayo antar aku pulang Jo !"

Jo melongo.  "Ehh, emm..ya yaaa..Bu !"

##

Demi memenuhi rasa penasarannya , Jo sengaja datang ke warung soto itu. Ternyata pemilik warung soto itu juga salah satu Ibu komplek yang pernah mendapat informasinya darinya tentang bumbu Soto India- menggunakan pala. Jo semakin kaget.
Walaupun Soto itu tetap terasa sedap dan cocok di lidahnya,namun Jo dilanda gelisah yang mendalam. Nafsu makannya tiba-tiba surut. Namun dia memaksakan diri untuk menghabiskan soto itu.

"Terimaksaih lho Jo , resep darimu dulu sudah ku praktekkkan  ! "

Jo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Teringat Eyang yang tidak mudah percaya padanya.


#NulisRandom2017
#harike17





Rabu, 14 Juni 2017

Tanyaku



Biarkan aku bertanya.
Pertanyaan yang sederhana...

Orang-orang yang terbiasa menjahit bajunya sendiri, menjahit baju anak-anaknya, baju suaminya,  mertuanya bahkan suka rela menjahit baju tetangganya, tidak pernah mendapat gelar penjahit,mengapa??

Seseorang yang trampil memasak,  untuk keluarganya,memasak untuk keperluan kegiatan sosialnya,  memasak sendiri untuk acara-acara tertentu di rumahnya,  tidak pernah mendapat gelar chef atau koki,  mengapa?

Orang yang terbiasa menulis buku harian, menulis buah pikirannya,  menulis ide-idenya bahkan menulis khayalannya tidak pernah mendapat gelar penulis atau author atau writer, mengapa?

Orang yang terbiasa membantu anak-anaknya, anak temannya bahkan anak tetangganya dalam belajar, dalam memahami sesuatu, membantu mereka menyelesaikan tuga-tugas tidak pernah mendapat julukan pengajar atau pendidik, mengapa?

Orang yang terbiasa mengabadikan momen-momen tertentu dengan kameranya,  mengabadikan hal -hal di sekitarnya yang dianggap unik, eye catching,  tidak pernah mendapat gelar photographer mengapa?

Orang yang mempunyai daya himbau, daya gedor, daya persuasive yang tinggi untuk merubah mindset bahkan prilaku masyarakat sekitarnya tidak pernah mendapat julukan motivator,  mengapa?

Orang yang setiap hari belajar, membaca, menelaah di luar ruang dan waktu tertentu,  memecahkan persoalan-persoalan konkrit sehari-hari,buka sekedar di atas kertas ujian tak pernah mendapat julukan siswa (pelajar) mengapa?

Orang yang bila bertemu seseorang dengan berbagai masalahnya selalu bisa mnggiring pada solusi cerdas, yakni berdasar ayat-ayat dan sunah Rasulnya tak pernah mendapat julukan Ustadz atau Da'i mengapa?

Dan masih banyak lagi fenomena semacam itu....
Tanya, mengapa?

#NulisRandom2017
#harike15



Selasa, 13 Juni 2017

Ambulance Helicopter

Setiap kali mendengar sirine ambulance ,hati ini miris.  Walaupun yang ada di dalam ambulance belum tentu orang meninggal  tapi saya mendadak ingat mati dan ngeri. Lalu saya pun berpikir, jika ambulance itu membawa orang luka parah atau pendarahan,  oh my God,  di jalanan macet seperti itu ???

Saya dan suami pernah naik motor  terjebak macet di samping sebuah ambulance.  Haduhhh, gendang telinga saya rasanya mau pecah.Belum lagi harus menahan rasa seperti yang saya ceritakan di atas. Saya sudah menutup telinga namun tak jua reda rasa yang aduhai itu.  Saat itu saya berpikir, seharusnya di Jakarta dan sekitarnya menyediakan ambulance berupa helicopter. Saat itu juga saya pun hanya bisa membuat status di FB tentang hal itu . Siapa bisa bantu menaikkan usulan saya ini ke pemerintah??  Hehee.. ,gaya banget ya?  Tapi percayalah,  ini serius, ini bukan gaya, bukan pula frasa, tapi ini soal rasa.

Dan saya kembali terusik saat 3 hari menjelang puasa tahun ini,salah satu putra kawan kami meninggal. Usianya masih sangat muda,  20tahun. Pemuda itu tersrempet motor, jatuh terpelanting dan mengalami  luka dalam yang parah parah. Mengeluarkan darah dari  mulut dan hidung. Pemuda itu segera dilarikan ke RS kecil terdekat tetapi tidak bisa ditangani denagn maximal karena peralatan medis yang terbatas.  Kemudian pihak rumah sakit menelpon beberapa RS besar terdekat, namun kabarnya semua penuh.  Satu-satunya RS yang bisa melayani adalah RSCM. Entah bagaimana kejadian detailnya -saya juga kurang mengerti - intinya pihak keluarga saat itu  menunggu ambulannce yang datang dari RSCM.
Apa tidak ada ambulance dari Bekasi yang bisa langsung membawa ke RSCM?  Pikir saya. Tetapi sebenarnya,  kalaupun ada ambulance yang siap, perjalanan terlampau jauh bukan?
Dan...benar saja,  belum sempat ambulance datang,  pemuda itu meninggal dalam keadaan belum mendapat pertolongan maximal. Miris, benar-benar miris hati saya.  Saya hanya bisa tergugu sedih saat itu.
Memang,  semua sudah waktunya. Namun, bagaimana usaha maximal kita sebagai manusia ??

Lagi-lagi saya berpikir tentang Ambulance Helicopter. Apalagi sejak saya melihat salah satu kawan kami mempunyai usaha training, salah satunya ada HLO (Helicopter Training Officer). Bahasa sederhananya, training parkir helikopter.

Memang bukan perkara mudah, banyak faktor yang harus dipertimbangkan,landasan utuk mendaratkan heli dsb. Termasuk kondisi pasien-mungkin saja pasien tertetu tidak bisa dibawa dengan heli karena mungkin getaran heli  berbeda dengan mobil.  Entahlah pihak medis lebih paham. Namun saya masih berharap pemerintah benar-benar serius memikirkan hal ini.

Ini hanya opini saya,  sebagai orang awam. Penjelasan dan pencerahan dari para ahli masih sangat saya harapkan.

#NulisRandom2017
#harike13



Selasa, 06 Juni 2017

Menulis Kebingungan

Besok nulis apa ya?  Pertanyaan itu selalu datang sejak seminggu terakhir ini.
Hari ke enam NulisRandom, biasanya pagi-pagi sudah setoran, sampai sesore ini belum juga.  Benar-benar berbeda dengan setoran foto. Dulu,  dalam sehari saya bisa setor ke tiga atau empat akun dengan tema berbeda.

Kemarin memang so hectic.  Harus pergi ke Jakarta karena ada urusan penting .Waktu akan berangkat, ada sedikit kendala teknis pula, jadi kami terlambat berangkat.  Tapi aku tetap optimis, di jalan akan menemukan ide, dan aku bisa menulis di kereta.

Dalam perjalanan menuju stasiun Bekasi, aku melewati stadion Bekasi.  Aku tertawa geli, teringat kata-kata si Bontot, setahun atau dua tahun lalu.
"Mah, lihat deh, atapnya serem lho, kayak Dino Saurus, apalagi kalau malam  !"

Aku pun mulai berpikir, menulis tentang pembangunan stadion Bekasi. Tapi kuurungkan, sadar tak mempunyai banyak data.

Sampai di dekat stasiun Bekasi,lalu lintas mulai padat.  Menengok kanan dan kiri, penitipan motor hampir semua full.  Suami akhirnya membelokkan motor ke penitipan motor seberang stasiun. Baru datang, kami langsung ditanya akan pulanga jam berapa, karena penitipan tutup  pukul 10.
Aku pun mulai berpikir menulis tentang usaha penitipan motor.Tapi kuurungkan juga. Haduh, bingung mau nulis apa.

Bersyukur kami mendapat tempat duduk di kereta.  Suami langsung memejamkan mata karena karena kurang istirahat. Sejak Minggu ada acara ke luar kota, paginya sudah tersusul acara lain. Selamat tidur Pak, bisikku dalam hati.  Aku mengamati sekitar, mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa kutulis.Kulihat  Cleaning service kereta, kulihat orang-orang memakai sepatu kekinian,  blouse kekinian,  ampun cakep-cakepnya, bisikku.
Kulihat orang-orang sibuk dengan gadgetnya,  kulihat hujan dari balik kaca kereta.  Apa... ,apa yang akan kutulis??
Aku mulai sedikit kantuk.  Aku memejamkan mata, namun tidak benar-benar bisa tidur. Tak lama kereta sampai di stasiun Manggarai.  Kami harus transit untuk menuju Tanah Abang.  Yess, alhamdulillah, kami mendapat tempat duduk lagi. Tapi,aku tetap saja tak bisa menulis.

##

Ternyata kami harus pulang melebihi pukul 10:00. Sampai stasiun,  pukul 12:00. Hujan mengguyur Bekasi setelah berminggu-minggu panas dan gerah. Bahagianya, udara sejuk.
Kami nekat menerobos rinai hujan, untuk mencari taxi.  Aih, romantis juga ya.  Kalau ditulis ,ok juga pikirku.  Di dramatisir dikitlah tentunya hihi.  Atau justru dibuat cerita horor?  Ah tak taulah.

Pukul 12:20 kami sampai rumah. Mana bisa aku langsung tidur?  Aku harus memeriksa nasi untuk makan sahur.  Aku tertegun, ternyata sudah ada nasi dan dapur tampak rapih bersih.  Pakaian di kamar setrikaan tertata rapih.  Kadang-kadang anak-anak memang begitu, membuat kejutan dengan beberes rumah saat ayah ibunya pergi. Dan mereka, terutama si bontot sangat senang saat aku tampak terkejut dan senang dengan kejutan mereka. Ah, mereka good boys.  Alhamdulillah. Bahagianya aku.

Aku berangkat tidur.  Terpikir juga belum menulis. Tapi, ah sudahlah,  pikirku.

Ahh,  lalu aku akan menulis apa?  Wow, aku baru sadar, rupanya aku sudah menuliskan kebingunganku akan menulis apa....

#NulisRandom2017





Karena Cinta Enggan Berdusta 4

8. PENGGENGGAM SETIA             Menurut Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re, tidak mempermasa...