Rabu, 08 Maret 2017

Tak Bisa Menelan

Seorang perempuan tua berjalan tertatih, merintih berulang-ulang

"Tolong saya, hari ini saya sulit menelan makanan !"

Ada yang cuma melihat sambil  berlalu. Ada yang memandang lama,bingung kemudian berlalu. Ada beberapa orang  langsung berhenti.  kemudian mengajak wanita itu duduk..

Orang pertama,

 "Ohhh mungkin  Ibu radang tenggorokan !"

Orang ke dua

"Ohh..mungkin ada duri ikan yang menyangjut di tenggorokan Ibu !"

Orang ke tiga

"Apa mungkin amandel ibu membengkak ya?"

Orang ke empat

"Wahhh bu,ini sepertinya penyakit serius, kesulitan menelan tu bukan sembarangan,mungkin ada ...,ah sudahlah !"

Perempuan tua menutup telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangisnya pecah..

"Sabar, bu...sabar ,mari saya bawa ke dokter ya  Bu ! " kata orang pertama

Perempuan tua menurut...,dengan langkah lunglai dia berjalan, di papah oleh dua orang,sementara dua orang yang lain mengikuti dari belakang. Raut wajah mereka semua tegang, sementara perempuan tua itu masih merintih rintih mengatakan sulit menelan makanan.

Sampailah mereka di sebuah Rumah Sakit...

Dokter memeriksanya dengan seksama. Suhu badan ibu itu tidak tinggi malah cenderung dingin. Kemudian dokter mulai memeriksa tenggorokannya. Tidak ada juga tanda-tanda peradangan. Perempuan tua tampak semakin lemas,dokter menyuruh perawat memberinya minuman manis. Perempuan tua meneguk minuman itu hingga habis.

"Lohhh,ituu..ibu bisa menelan dengan mudah!  kata dokter

Dengan lemah Perempuan tua mengatakan

"Sejak tadi saya bilang sulit menelan makanan dok,bukan minuman. "

"Ooh.. ,begitu?" kata dokter muda itu sambil terbengong. Berpikir.

Perempuan tua itu menggeleng-geleng dengan raut wajah sedih seraya permisi pergi. Dokter ,perawat dan orang-orang yang mengantarnya melarangnya,tapi Perempuan tua tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan.

Oh Tuhan, aku mengatakan sulit menelan makanan karena aku malu mengatakan tidak punya makanan yang bisa kutelan,tetapi mengapa mereka tak juga paham ? gumamnya,dalam isak tangis yang dalam.


AR
Kemang Pratama ,Maret 2017
Selingan menulis cerbung ...FEIJOA



Senin, 14 November 2016

Senyap

Dalam temaram cahaya lilin,tangan kami bergenggaman. Mata kami terpejam. „Cavantina“ melantun.  Menyelesaikan masalah dengan senyap, begitu adanya.
Lalu, lantunan  „Al Hambra“ menyayat kalbu, menyelesaikan masalah dalam senyap, begitulah adanya. Walau musik mengiringi namun senyap, demikian adanya. Tanpa pembelaan, tanpa suara tinggi yang terucap. Renjana teredam di dada. Membebaskan sang  jiwa berbicara dan bertanya , menilik diri sendiri. Rasa  berperang dengan logika. Qolbu mengolah resah dalam bisu. Syaraf otak mencari kombinasi data untuk bertemu solusi.
Kemudian terdengar lantunan Surat Ar Rahman:  „ Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? „ Gigil di dalam sana.
Menyelesaikan masalah dengan senyap. Senyap di luar, namun riuh di dalam sana. Kemudian gelombang otak saling .mengirim sebuah energi  
            Kami melepas genggaman tangan, saling memandang, tersenyum dan berpelukan, bertukaran detak jantung. Damaipun menyapa.
Senyap, kami menyelesaikan masalah dalam senyap.Indah, anggun dan artistik,   

Pekayon, 31 Mei 2011
Dalam dewasanya  cinta kami




Selasa, 01 November 2016

Setia

Kau..menyelinap begitu saja pada jeda yang telah tertata.
Percik sisa rasa istimewa yang belum terkata
Sesaat membuat lena
Menggiring pada pusaran rasa masa belia

Duhai penguasa hati
Sambutlah harap dengan rahmatMu yg tak bertepi
Kokohkan hati 
Rantailah imagi
Bimbinglah logika ini
Agar sepi dari ilusi

Wahai penguasa kalbu
Redamlah rasa yang menggebu
Pada ketidaktepatan waktu
Tanpa pilu
Tanpa ragu
Demi seonggok daging penentu nilai laku
Biarkan semua berlalu
Tergenggamlah setia yang tak layu

Zaa Nov 2016

Kamis, 11 Agustus 2016

Brownies Chocolatos

Tidak suka masak bukan berarti saya tidak bisa masak hehe. Bukan pula berarti tidak mau "mereka-reka" masakan yakni bikin resep sendiri sesuai selera atau menyesuaikan sikon stok hihi.
Sudah dua bulan ini kami pindah rumah. Untuk keluar komplek lumayan jauh. Tidak ada warung-warung atau toko seperti rumah kami sebelumnya. Kadang pas pengen ngemil..ee ternyata camilan habis. Yah..rada repot kalau harus keluar apalagi kalau sudah malam.
Hikmah dari kondisi tersebut, saya jadi rada rajin bikin kudapan sendiri hehe. Dan..lebih "luwes" dan kreatif (halah Gr) untuk mencoba dengan bahan baru atau mengganti bahan.
Seperti hari ini,saya membuat brownis panggang. Berhubung tidak ada dark chocolate atau milo atau SKM coklat saya pakai saja minuman coklat "chocolatos" debagai penggantinya.
Ini nih resepnya:
7 sdm tepung terigu
7 sdm margarin
2  butir telur
4 sdm gula pasir (karena pada minuman coklat sudah mengandung gula)
2 sachet minuman coklat "chocolatos"
1/2 sdt soda kue
1/2 sdt baking powder
Saya tidak memakai sp atau tbm atau sejenisnya,silakan bila akan menambahkan.
Cara:
1.Kocok telur dan gula pada wadah terpisah
2.Panaskan mentega setelah leleh  campurkan dengan minuman "chocolatos" aduk merata.
3.Campurkan tepung ,sd dan bp aduk rata.
Satukan ketiganya ,ratakan kemudian panggang.
Dan...hasilnya tidak mengecewakan. Manisnya pas untuk lidah kami yang sudah terbiasa dengan makanan tidak terlalu manis *karena sudah manis ehhh . Silakan di coba,selamat mencoba.
*foto bisa dilihat di akun instagram saya zaa zakiyah

Minggu, 31 Juli 2016

Merek Oh Merek


"Beli roti yang ga ada merek?" tanyanya dengan logat Aceh sambil tertawa.
Itulah yang diucapkan lebih dulu oleh pedagang warung  kelontong  setiap saya datang ke warungnya. Saya pun tidak bisa menahan tawa.
Salah saya juga sih,karena awalnya saya pernah nanya;
"Mana roti yang ga ada merknya?"
Warung kelontong dekat pasar itu menyediakan berbagai camilan termasuk roti. Ada beberapa macam roti,tapi ada satu roti yang tidak ada merknya. Ternyata roti itu enak banget dibanding yang lain (yang ada mereknya). Ada yang rasa mochacino pula. Rasa blueberry,keju dan coklat pun enak. Memang benar ya,yang bermerk dan terkenal belum tentu enak dan berkualitas. Bukan roti itu saja yang saya perhatiakan loh. Teh,kopi,biscuit,somay,masakan padang. Termasuk produk jasa,buku-buku bahkan manusia  *ehhh 
Cieee..sok jadi pengamat. Maklum ya...background pendidikan saya kan dari pendidikan dunia usaha. *tapi ngaku kok,belum bisa disebut punya usaha yang sukses hihii.
Beberapa bulan kemudian, saya lihat pada kemasan roti itu sudah dipasang merek. Terbuat dari kertas yang di lekatkan pada salah satu tepi kemasan. Simple ,bagus,informatif.  Nah,saya jadi mengerti merek roti itu sekarang.  Jadi saya bisa menyebutnya. Tapi  pedagang itu  terlanjur suka ngerjain saya. Tetap saja mengatakan hal yang sama setiap kali saya ke warungnya.
"Beli roti yang ga ada merek?"
Beberapa waktu lalu saat belanja lagi ke warung itu,bisa-bisanya ya, saya tidak mengenali roti idola saya itu. Hemm..ternyata sudah ada perubahan lagi.  Kemasan roti itu disablon dengan merk warna merah menyala dan besar.
Alamakkk...norak,batin saya hihi. Dan...satu hal yang bikin rada kecewa, bau tinta merk itu tercium sampai ke rotinya. Haduhhh...merek oh merek.
Dah...gitu aja hee.

Jumat, 29 Juli 2016

Telur Retak dan Tahu Bau

Pertama kali melihat grobak itu mataku langsung berkilat. Dan...wow banget saat kulihat nasi bungkus,telur rebus,ubi rebus,pisang rebus,bakwan dan beberapa gorengan.
Harganya wajar saja. Aku sempat heran tapi kemudian
segera faham. "Pangsa pasar" bukankah penghuni perumahan itu.
Tukang ojek,tukang sayur, tukang sol sepatu,pemulung dan pedagang makanan yang keliling komplek adalah langganan Ibu itu. 
Mataku mulai mengamati dagangannya. Telur rebus,kulitnya  agak retak-retak. Hmm...tetap telur walau tampilannya kurang mulus pikirku. Yang mengherankan sayur tahu,harganya sebungkus Rp 2000. Aku membeli sebungkus dan beberapa jajanan pasar. Tak kuhiraukan tatapan heran Ibu penjual itu.
Sampai rumah,aku segera mencicipi sayur tahu itu. Omg berbau kurang sedap demikian juga tahu isinya.
Lain waktu aku datang lagi. Kami mengobrol panjang lebar ,tertawa tertiwi dan akhirnya kudengar ceritanya ..
"Telur yang retak-retak lebih murah  demikian juga tahu yang nggak baru Bu. Jadi saya tetap bisa jual dengan harga biasa. Hehee..kami sudah biasa Bu,dengan makanan seperti itu !"
Aku tertegun dan mencoba tersenyum sambil menelan ludah,pahit. Walau ingin menjerit,tapi aku pamit dengan hati clekit-clekit.

Karena Cinta Enggan Berdusta 4

8. PENGGENGGAM SETIA             Menurut Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re, tidak mempermasa...