Urusan perijinan begitu mudah, kami segera menyelesaikan acara berikutnya yaitu bertemu dengan beberapa rekan di tempat yang berbeda. Tiga jam kemudian barulah kami bisa santai jalan-jalan di pusat kota.
Banyak rumah makan khas daerah dari Sabang sampai Merauke. Nasi Guri Aceh, Nasi Uduk Betawi, Nasi Tutuk oncom, Nasi Liwet Solo,Nasi Megono, Nasi Pecel Madiun, Nasi Pecel Ndeso, Empal Gentong, Soto Banjar, Nasi Padang dan sebagainya. Kedai jajanan tradisional pun berjajar. Semua Franchise dan berlabel halal. Benar-benar menyenangkan. Satu hal lagi yang menarik, masing-masing kedai menampilkan bangunan khas daerah masing-masing.
Kami mulai lapar. Mudah,tinggal pilih,dan pilihan kami adalah Nasi Pecel “ndeso” khas Solo. Saat makanan tersaji…
“Kok ada daun pisang segar, sayuran dan lauk yang komplit ya?” gumamku
“Nah, aku baru mau ngomong!” kata suami sambil tertawa.
“Alhamdulillah, InsyaAllah…ini pertanda baik.”
Suamiku hanya tersenyum, manggut-manggut sambil mengunyah sayuran pecel yang “kres” , sementara aku lebih dulu menggigit krupuk Karak Solo yang kriuk.
Setelah makan, kami tak segera beranjak, tempat itu begitu hommy, berasa di rumah nenek. Tikar pandan, air putih dalam kendi, tempat cuci piring dari mangkuk batok kelapa, piring gerabah…masyaAllah, luar biasa menyenangkan.
Kami keluar dari rumah makan itu saat pengunjung semakin ramai. Kami melanjutkan perjalanan, masih di sekitar pusat perdagangan itu saja sampai adzan ashar berkumandang. Kami segera menuju sebuah masjid yang cukup megah bernama “Al Fath” . Kabarnya, masjid itu tidak pernah dikunci, pintu terbuka 24 jam. Bagaimana menguncinya? Memang masjid itu tidak berpintu, hanya bertembok rendah sebagai pembatas saja. Tengah malam pun kabarnya masjid itu masih ramai dikunjungi, malam hari masih banyak berbagai majlis ta'lim. Hati bergetar mendengar cerita itu.
Setelah sholat, aku mengaktifkan ponsel. Muncul pesan dari suami, bahwa beliau akan melihat-lihat masjid dan mengobrol dengan beberapa marbotnya.Hatiku bersorak,akupun masih perlu berlama-lama berada di masjid itu.
Sementara suami mengobrol dengan pengurusnya yang berkebangsaan India, Melayu dan Afrika. Aku asyik menjelajah perpustakaan di bangunan sayap kanan. Di situ aku berkenalan dengan seorang gadis muda,bernama Michelle . Bermata biru kehijauan , berkulit bule tapi aku tidak bisa melihat rambutnya berwarna apa karena tertutup oleh khimar lebar. Dan…tak sengaja mataku melihat merk khimarnya, salah satu merk khimar yang cukup terkenal di Indonesia. Aku tersenyum.
Walaupun bahasa inggrisku pas-pasan Alhamdulillah komukasi tetap berjalan, sesekali aku menyampaikan maksud pembicaraanku dengan tulisan. Sungguh menggelikan namun seru. Gadis muda itu bercerita, di masjid itu padat kegiatan. Sering ada seminar,musyawarah,sharing, kajian-kajian, bahkan di halaman yang luas itu sering untuk berbagai latihan fisik, misalnya senam pernafasan dan bela diri.
Michelle datang ke masjid itu selain untuk sholat, juga menunggu kawan dan salah satu guru.
Aku tertegun, pantas saja masjid itu tidak pernah dikunci. Dan satu hal yang kucermati adalah, tidak banyak masjid disekitarnya. Masjid itu, menjadi pusat kegiatan penting bukan sekedar sarana ritual sholat.
Setelah puas berada di masjid itu, kami menuju sebuah kedai kopi yang sejak tadi sudah kami incar.
Lima belas menit kemudian….
Pramusaji menghampiri kami ,menyerahkan lembar menu. Aku tertawa geli . Tidak ada nama menu Macchiato, Espresso, Cappuccino,Americano , Red Eye,Double Espresso dsb.
Yang ada: Kopi Tubruk Ginastel,Kopi Saring Ginastel, Kopi Pait Kentel, Kopi Jahe Kopi Tubruk “Klenying-klenying ” , Kopi Rempah Indonesia, masih banyak lagi dengan nama-nama khas Indonesia yang tidak di translate. Kedai itu juga menyediakan Susu dijual terpisah..itupun susu cair murni, ada susu kambing dan susu sapi. Gelas dan perabotan pendukung “jaman simbah” pun menjadi ciri khas kedai kopi itu… bagaimana tidak, kedai kopi itu bernama “Kedai Kopi Eyang Putri”. Kedai kopi itu juga menyediakan aneka snack. Aku kegirangan saat membaca “Semar Mendem” . Aku pun segera memesan Kopi Jahe saring dan sepotong semar mendem. Sementara suami memilih kopi tubruk “klenying-klenying” alias black coffee less sugar dan sepotong kue talam.
Sambil menikmati kopi kami membicarakan masjid yang kami kunjungi tadi. Sesekali mengamati para pengunjung. Sementara suami sedang berbalas pesan dengan rekannya mataku pun melancong ke setiap sudut ruangan…
Serombongan anak sekolah, memasuki kedai kopi. Setelah makanan tersaji , mereka mulai mengeluarkan ponsel dan cekrek..cekrek….
“ Indonesian vintage stuff, It’s cool !” kata si rambut pirang lurus bermata kehijauan
“Yes ,i think so !” jawab si rambut pirang bergelombang dan bermata coklat. “Yess, success I have upload it on instagram!” lanjutnya
Kemudian mereka mengerumuni ponsel si rambut coklat sambil mengucapkan kata-kata yang kadang tidak kufahami. Mungkin bahasa gaul.
Saatnyakami harus beranjak. Sekitar sepuluh langkah meninggalkan kasir, tak sengaja jilbabku tersangkut di rantai tas salah seorang wanita.
“Ohhh..i’m sorry!” kataku
“It’s ok..it’s ok Mom !” jawabnya ramah sambil menyentuh bahuku seolah menenangkanku. Kemudian kami berkenalan.
Ku elus kepala bocah laki-laki yang digandengnya. Si bocah meringis, giginya bersih dan rapih. Aku berjongkok dihadapan bocah itu, kutanya siapa namanya, berapa usianya, sekolah di mana, dia menjawab dengan berani tanpa rasa takut. Aku kembali berdiri dan mengobrol dengan Anne, dia nampak sangat santai, well come ,tidak sinis,tidak takut dan nampaknya tidak terburu-buru menyelesaikan urusan lain.Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara aneh, tapi seperti sering kudengar di masa kecil.
“What’s that?” tanyaku sambil tersenyum
Bocah empat tahun itu tertawa cekikian kemudian mengeluarkan tangannya yang tadi disembunyikan di belakang.
“Frog !” jawabnya, tawanya kian lebar.
Aku menutup mulutku menahan tawa yang hampir tak terkendali. Aku bertanya pada Anne, di mana dia membeli mainan “Indonesia banget” semacam itu. Ternyata ada sebuah toko di ujung jalan yang menjual barang-barang unik dan khas dari Indonesia. Termasuk “kodok-kodokan” khas Sekaten yang dipegang bocah tadi.
Aku memandang lagi ke arah bocah itu, aku baru sadar, dia mengenakan kaos bergambar wayang Gatut Kaca dan sepatunya persis sepatu anakku yang kubeli di Cibaduyut.
Aku pun berpamitan pada Anne, mengulurkan tanganku untuk bersalaman, dia memegang tanganku dengan dua tangannya….
“May I get your phone number?”
Aku tertegun, kulihat matanya memancarkan kegembiraan dan harapan. Dia benar-benar tidak merasa takut? Pikirku. Apalagi dia melihat aku sedang ditunggu pria berjenggot dan banyak orang mengatakan mirip Imam Samudra yang “dikabarkan” teroris. Dia tidak curiga pada kami? Pikirku.
“Mom..!” panggilnya
“Oh…OK !” jawabku ,kemudian kuberikan nomor telponku “But…why you…?” kuhentikan pertanyaanku, kemudian aku hanya memandangnya. Anne tersenyum kemudian berpamitan, sebelum pergi dia memelukku.
Malam ke 17 , di sudut kamar hotel, di kota New York itu ...
muncul rasa rindu rumah, rindu sudut ruangan bernuansa coklat, sudut perenunganku.Lamunanku buyar saat ponselku berbunyi.
Anne menelepon,mengutarakan keinginannya bertemu lagi , dia ingin mempelajari Islam.
Jantungku berdegup kencang,rasa bahagia membuncah , air mataku berlinang...
Dan…aku bertanya, ini kah merdeka?
Kemang Pratama ,Januari 2016
Amadia Raseeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar