Jumat, 21 Juli 2017

Berjalan Tenang

Aku hanya perlu berjalan dengan tenang
Agar setiap langkah bisa kuhayati
Bahwa aku sedang memanusiakan diriku

Aku tak perlu melangkah hingga terengah
Menunggu tepuk tangan
Menunggu sorak sorai

Aku hanya perlu berjalan tenang
Agar setiap langkah dapat kumengerti
Ada yang masih perlu kuisi

Aku tak perlu ragu untuk mencari
Aku tak perlu takut untuk berkata
Aku tak perlu enggan untuk bertanya

Aku hanya perlu berjalan tenang
Menggenggam mutiara hikmah
Bahwa tiap langkah ada sebuah pencerah 
 



Membaca Syarat Paling Utama Bisa Menulis?



Mari sejenak  mengingat sebuah ayat yang pertama kali turun

Iqro’,bismirobbikalladzi kholaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu)

Walaupun ada kata Iqro’,bukankah Jibril tidak serta merta menyerahkan lembaran kertas atau kitab pada Muhammad? Ya,karena memang Muhammad buta huruf. Tetapi Muhammad bisa mendengar dan Muhammad memiliki daya renung yang tinggi ,punya hati yang peka terhadap perintah Tuhannya dan kondisi sekitarnya.

Lalu, mari sejenak melayangkan imaginasi pada masa silam. Tidak ada kertas dan tinta seperti saat ini. Tidak ada media menulis yang memadahi. Kalaupun ada mungkin terbuat dari batu,kulit binatang,kulit kayau atau daun, hasil tulisan tentu tidak bisa dibandingkan dengan saat ini.

Mari sejenak mengamati orang-orang disekitar kita , ada yang lebih suka mengobrol,berdialog,tanya jawab, ada yang cenderung lebih banyak berbicara tetapi sangat suka membaca, ada yang cenderung lebih khusyuk mendengarkan ada yang cenderung lebih banyak bergerak,melakukan sesuatu,membuat sesuatu.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan mulailah dibuat klasifikasi tipe pembelajar, Visual,Auditori, kisntetis,taktil. Ada yang gabungan dari dua atau tiga atau bahkan keempatnya.

Lah ini mau ngomomg apa sih ?

Gini..melihat fenomena diatas, berarti masuknya ilmu dan pengetahuan melalui banyak pintu bukan?  Imu dan pengetahuan juga pengalaman  adalah salah satu modal untuk bisa menulis. Ya,lalu kenapa lagi? 

Sebagian besar orang berangggapan, bahwa membaca buku adalah satu-satunya syarat utama untuk bisa menulis. Benar sih. Tetapi berapa persen kebenarannya?
Hanya sebuah opini saja, berdasar fakta yang saya lihat sebenarnya banyak sekali yang suka menulis atau bisa menulis tetapi bukan orang yang “kutu buku” . Demikian juga sebaliknya. Orang kutu buku banyak juga yang tidak pandai menulis.  Memang tidak dipungkiri dengan banyak membaca kita jadi mengerti bagaimana menyusun kalimat yang baik dan benar. 

Jumat, 07 Juli 2017

Renjana Sang Kamboja



Sekitar tiga bulan yang lalu,pohon kamboja  di belakang rumah tiba-tiba rubuh. Sayang sih,tapi mau bagaimana lagi? Daun-daun pada ranting ranting kecil kami pangkas , karena akarnya belum benar-benar tercabut, jadi kami berdirikan lagi walau pohon itu harus bersandar di tembok. Sebagian ranting kecil kami sisihkan di sudut halaman. Kami sudah tidak menaruh harapan apapun pada pohon itu selain menerima kenyataan,peneduh halaman sudah tumbang dan bertanya-tanya pelajaran apa yang bisa kami ambil ? Ada apa gerangan? Sempat saya men-upload pohon itu dengan caption yang kurang lebih seperti yang saya katakana tadi. Beberapa malah ada yang komentar, apa-apa ga usah dipikirin. Ada yang komentar, nanam lagi saja,kamboja mudah tumbuh. Ya sudah tidak perlu saya tanggapi komentar orang yang tidak mengerti perjalanan batin ini..





     
Beberapa hari kemudian, saya temukan biji kamboca berkecambah, tapi saya tidak mengerti harus saya apakan, hanya semp[at saya abadikan dengan foto. Karena tersusul kesibukan-kesibukan yang lain, akhirnya kecambah bunga itu mengering. 












Bersamaan dengan itu, ternyata saya dan suami mempunyai pertanyaan yang sama;  mengapa bunga 
kamboja yang masih tersisa pada batang yang rubuh tidak segera layu? Setelah kami cek, rupanya pohon kamboja itu masih bertahan hidup. MasyaAllah,kuasa Allah. Memang benar Kamboja jenis pohon yang mudah tumbuh tetapi tanpa izinNya,tidak akan tumbuh juga kan?  






Dan sekarang, daun-daun baru dan bakal-bakal bunga mulai bermunculan. Kekaguman dan kegembiraan menyesak di dada. Mungkin, tak semua bisa merasa, tak mengapa.
Banyak pelajaran berharga yang bisa kupetik dari rubuhnya sebatang pohon kamboja itu. 








Jatuh belajar untuk bangkit.
Rubuh belajar untuk kukuh
Jika berpikir kekuatan adalah milik kita ada dua kemungkinan, terlalu PD atau sebaliknya, putus asa.

Terimakasihku padaNya, terimakasihku juga padanya si Kamboja.








Rabu, 05 Juli 2017

Balada Tissue Dapur

Balada Tissue  Dapur

Bagi saya tissue adalah kebutuhan pokok. Entah itu facial tissue ,toilet tissue atau tissue untuk makanan.
Tetapi untuk toilet tissue dan facial facial tissue, tidak saya fungsikan sebagaimana namanya.
Ceritanya beberapa hari lalu saya belanja di swalayan. Awalnya mau beli facial tissue,karena lagi kambuh alergi. 😷. Ehh kok ada tissue dapur (di kemasan disebutnya kitchen towel)  lagi promo. Tiga roll cuma 20 ribu lebih dikit.  Padahal kalau eceran satu rolnya 9sampai 10rb.Ah, langsung saja saya masukkan keranjang belanjaan dan saya ambil facial tissue yang agak tipis.
Sampai rumah, ternyata facial tissue yang saya beli langsung habis karena rhinitis saya kian hebat, bersin dan meler-meler makin hebat. 😷✌.Ujung-ujungnya kehabisan tissue. Darurattt.. saya pun mulai melirik tissue dapur, bodo amat.
Ehh diluar dugaan, kok ternyata lembut dan kuat.  Saya pun enjoy saja memakainya. Tapi kalau mau mengambil kok ribet banget, karena memang saya belum beli alat penggantungnya.
Semalam sebelum pergi, tiba-tiba suami minta dicarikan hanger yang sudah patah tengahnya, atau yang mudah dipatahkan tengahnya.  Walau saya bertanya-tanya buat apa?  Tetapi saya tetap tidak bertanya untuk apa.Latihan tidak cerewet hihi.  Ternyata, untuk menggantungkan tissue dapur itu, supaya saya mudah mengambilnya. 😁😁 Ohh..balada tissuee dapur. *menjagasemangatmrnulissaja

#menulis
#cerita
#celotehzaa

Pecak Tempe

Pecak Tempe

Pecak, jenis masakan yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Sunda atau Betawi.  Ada berbagai jenis pecak;  pecak oncom dan berbagai pecak berbahan ikan. Tetapi saya sendiri kurang mengerti apa saja sebenarnya bumbu pecak yang biasa dijual di warung atau rumah makan.

Saya pernah mendapat bumbu pecak oncom dari salah satu tukang sayur langganan saya, orang asli Betawi.
Bumbunya simple banget:
Bawang merah, jahe, cabe merah besar (bisa juga ditambah rawit), dihaluskan.  Bisa juga ditambahkan kemangi. Jangan lupa, oncom digarang dulu, baru dicampurkan pada bumbu2 tadi.

Rasanya?  Lidah saya sih menerima.  Nah,  beberapa hari ini saya terserang flu.  Menurut saya,  masakan ini oke banget buat obat flu, cermati saja,  ada bawang merah, ada jahe, ada cabe dan tidak mengandung minyak( krn digarang, bukan digoreng). Karena, flu biasanya disertai tenggorokan tidak nyaman dan akhirnya batuk. Sebaiknya kita mengurangi minyak.

Agar nilai gizi lebih baik, saya mengganti oncom dengan tempe (tempenya juga digarang). Kenapa tidak ikan?  Nggak,  takut memicu alergi,  karena saya penderita alergi yang lumayan oke. 😁

Ga perlu tambah sayuran?  Tentu perlu. Biar simple , saya rebus sawi manis (kenapa sawi manis?  Krn lebih enak dan segar, menurut saya) . Selain itu,  batangnya mudah empuk. Atau bisa juga ditemani toge, daun kenikir atau apa sajalah sesuai selera. Praktis saja, yang penting nilai gizinya cukup. Ga usah ribet numis2 ,rebus atau kulup atau kukus sudah cukup.

Selamat mencoba...

Jadikan makananmu obat dan jadikan obat sebagai makananmu (ini kata-kata  Socrates atau Discrates atau siapa lupa,  yg jelas bukan kata-kata saya)


Kamis, 29 Juni 2017

Perdagangan Ideologi



Sebagaimana perdagangan barang-barang, pada dasarnya di dunia ini banyak pelaku perdagangan non materi alias faham, aliran atau sebut saja ideologi .  Ada yang  yang menjajakan  kebebasan, ada yang berkata bahwa harta itu bisa membuat wibawa jadi harus di kejar sampai ke ujung dunia, ada yang  mengatakan hidup hanya sekali, ayo bersenang-senang, ada yang mengajak pada kebenaran  pada kitab suci, ada yang promosi pentingnya komunal, ada yang mengagungkan cinta ....wah banyak lah pokoknya. 

Apakah dalam perdagangan ideologi ini ada  agen dan marketing ? Woo...ya jelas ada. Masing-masing punya marketing yang handal dengan product knowledege yang top markotop.
So, what?  Kalau sudah begitu ngapain? 

Mana yang kita minati itulah yang akan membentuk ikatan (aqoid, aqidah) kita dan pada akhirnya membentuk pula  mindset dan roadmap dalam kehidupan kita.
Lalu, apa yang bisa menyebabkan manusia mempunyai ikatan, mindset dan roadmap  yang berbeda-beda?
Banyak faktor. Salah satunya yang paling berpengaruh adalah seberapa sering kita dicekokin, di blesekkan, dicelupin, disuapain, diiming-imingin.
Nah...sekarang mari kita bertanya, “dagangan” apa yang  paling kita minati? Apakah kita sudah mengerti  keunggulan dan kekurangan dagangan yang kita minati? Atau jangan-jangan apa yang kita minati itu malah tidak  ada keunggulannya sama sekali? Apakah perlu kita menjadi “pemain” perdagangan? Dan seiring pasar bebas barang-barang,, pasar bebas ideologi pun berkembang.

Napoleon  berkata: 

The world suffer a lot. Not becouse of the violence of bad people but becouse of the silence of good people

Tuh kan,  Napoleon aja bilang, orang baek- baek  yang cuma diem-diem aja yang bikin kejahatan kian merajalela di dunia ini, bukan karena kejahatan orang-orang yang jahat semata.(Eh tapi ingat ya baik tu belum tentu benar)
Pastinya nih ya, kalau Napoleon bilang gitu,  berarti Pak Napol ini termasuk orang yang ga diem aja kan? yang juga berdagang pemahaman , yang ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia kan? ...(ehh tapi apa sih dagangan Napoleon? )

Hem..itu baru kata Napoleon loh, bagaimana dengan kata orang-orang hebat yang lain lagi? Ya sammmmaaa, cuma beda bahasanya saja.  (tapi ati-ati yaa omongan orang hebat belum tentu bener juga, apalagi cuma yang nulis ini heeee)

Yang saya ketahui sih, di di dunia ini kita di tuntut berdagang non materi kok , kita dituntut menjadi pelaku ,penebar dagangan yang halal dan baik.  Apalagi bila kita yakin dagangan kita adalah dagangan yang baik dan bermutu.  Yahhh sebagaimana kita dagang barang yang berkualitas jangan kaget juga kalau dagangan yang baik dan halal itu “di tembak”, di jatuhkan di fitnah  biar ga laku  dsb...itu sudah resiko bro. 

So, keep the fighting spirit not  spirit for fighting 


#NulisRandom2017
#harike29

Kamis, 22 Juni 2017

Konspirasi Yang Indah ( 3 )


        “Bagaimana jika kita mencoba menemui menantu kita masing-masing?” kata Pak Marzuki seketika nampaknya pemikiran itu sudah bersarang sejak tadi dalam benaknya.

        “ Misinya?” tanya Bu Syahriza

        Misinya perdamaian tanpa menggurui melainkan memberi teladan!” jelas Pak Marzuki. 

        “Setuju Pak, perbuatan berbicara lebih lantang daripada kata-kata!” sahut Bu Hesti. “Saya ingin menjenguk Faisal, saya juga sudah kangen humor segarnya !” imbuhnya.

Mereka sepakat tentang misi itu dan telah mempersiapkan rencana satu, dua dan tiga bila memungkinkan. Dan rencana itu akan diluncurkan tergantung situasi yang mereka hadapi nanti saat bertemu menantu masing-masing. 

**
Pagi itu, mertua Wulan datang ke rumah orangtua Wulan. Bu Syahriza langsung memeluk Wulan kemudian mencium pipi dan jidat Wulan sebelum Wulan sempat mengulurkan tangan untuk bersalaman. Ketika Wulan mencium punggung tangan ayah mertuanya tangan kiri Pak Marzuki spontan mengelus kepala Wulan penuh kasih. Semua berjalan dengan sangat alamiah tanpa kepura-puraan.
        “Apa kabar Nak?” tanya Pak Marzuki sambil tersenyum menatap Wulan yang tak kuasa menahan air matanya.
        “Mana cucuku?” tanya Bu Syahriza. 
Tak lama kemudian Bu Hesti muncul sambil menuntun Najwa, di susul Pak Prasetyo. Najwa langsung menghambur ke pelukan neneknya yang sering mendongeng untuknya tentang burung hantu kecil yang lucu dan cerdas. Matanya bulat dan lebar seperti Najwa.
        “Coba  tebak, apa ini?” tanya Pak Marzuki, Najwa bergegas megambil bungkusan kecil dari tangan Pak Marzuki. “Eit, tidak bisa....sayang kakek dulu!”
Najwa segera mendaratkan ciuman di pipi kakeknya dan meraih bungkusan itu. Boneka burung hantu kecil dan kue. Najwa kegirangan sekarang menghambur ke pelukan ibunya, memamerkan bonekanya.
        Ibu nangis?” tanya Najwa dengan polosnya sambil memegang-megang mata Wulan.
        Wahh lucu yaaa burung hantunya!” selimur Wulan sambil mengelus kepala putrinya. “Sebentar ya, Ummi mau membuat minuman untuk Kakek dan Nenek!” 
Wulan tergugu di dapur. Tangannya tak juga mengambil cangkir di hadapannya. Dia sangat terharu, tak terpancar kemarahan dan kebencian segaris pun di wajah mertuanya. Justru Wulan merasakan kasih sayang yang seolah ditumpahkan dari hati. Rasa malu dan bersalah yang sangat atas prilakunya selama ini sedang menyerangnya dengan hebat. Berkali-kali dia menghapus air matanya tetapi masih saja mengalir.

        “Lan, mertuamu minta air putih !” kata Bu Hesti tiba-tiba dari belakang punggung Wulan. “Sudah Lan, kamu jangan menangis seperti itu. Kurang bagus buat psikis Najwa.

Wulan mengangguk, menghapus air matanya kemudian menarik nafas dalam. Dia bisa menghentikan air matanya tetapi tidak bisa menyembunyikan mata sembabnya ketika harus menyuguhkan minuman. Tetapi seolah dia sudah tidak peduli lagi. Mereka semua orangtua yang sangat di sayanginya.  Dia hanya perlu mempersiapkan jawaban cerdas untuk pertanyaan Najwa. Entah satu, tiga atau tujuh menit lagi bahkan bisa jadi besok dia masih menanyakan.

        “Bagaimana bisnis tanaman hias mu Lan?” tanya Bu Syahriza. 

        “Alhamdulillah lancar Bunda, kemarin ada yang memesan beberapa jenis bunga, katanya untuk hari Ahad yang akan datang bahkan kami sempat kekurangan, untung saja masih ada waktu untuk mencarikan kekurangannya ! ”

        “Alhamdulillah, untuk acara apa rupanya pakai bunga banyak-banyak ?” tanya Pak Marzuki.

        “Saya kurang mengerti Yah, Kemungkinan...emm, untuk keperluan dekorasi pernikahan!” jawab Wulan. Tiba-tiba wajahnya sendu. Bu Syahriza melirik ekpresi wajah Wulan kemudian menarik nafas perlahan.

        “Terus bagaimana Lan?” tanya Pak Marzuki

        Yaa...sedang mencari kekurangannyanya, Yah .”

        “Perlu bantuan Ayah, Lan? Nanti Ayah bantu mencari ke bukit berbunga hehee...” gurau Pak Marzuki. 

Tawa mereka berderai. Suasana sangat  hangat, seperti tidak terjadi apa-apa antara Wulan dan Faisal. Seperti tidak ada sebuah misi mulia antar besan yang sedang di jalankan. Tiba-tiba Bu Syahriza nampak panik setelah membaca sms kemudian mohon pamit dengan alasan harus menemui seseorang sedang sakit. Pak Marzuki mengatakan, padahal dia masih merasa betah.

        “ridho atau tidak nih, mengantar istri ?” tanya Bu Syahriza.

        “He heee beramal ikhlas memang susah, kalau mudah surga tak lagi spesial dan neraka tak lagi mengerikan. Tapi, yang penting terus berusaha untuk ikhlas“ jawab Pak Marzuki sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya. 

Spontan semua seperti tertegun dengan kalimat elok itu. Terutama Wulan, matanya kembali berkaca-kaca. Keikhlasan , sebuah kata yang tiba-tiba menghujam hatinya. Membuatnya bertanya pada dirinya sendiri, sudahkah dia ikhlas menerima segala kejadian baik ataupun buruk yang hadir di hadapannya? 

**
        Ibu tadi tiba-tiba pamit, itu di luar skenario kan?” tanya Bu Hesti setengah berbisik melalui telepon rumah. 

        “Iya, di luar scenario, Faisal terkilir kakinya!” jawab Bu Syahriza 

“Ohhhh...begitu, sekarang bagaimana kondisi Faisal?”

       “Sudah di urut tetapi masih kesulitan berjalan makanya tadi  terpaksa dia memberi kabar saya.”

        “Ohhh begitu, Ya Allah, kasihaaan menantuku .” kata Bu Hesti. Beberapa menit kemudian Bu Hesti menutup telepon

        “Siapa yang kasihan, Ma?” tanya Wulan tiba-tiba dari belakang punggung ibunya.Telinganya menangkap kata menantu.

Bu Hesti mematung karena terkejut dan bingung. Wulan kembali bertanya, ingin memastikan bahwa yang di dengarnya tadi tidak salah.

        “ Sudahlah Lan, kamu kan sudah tidak peduli dengan Faisal !” jawab Bu Hesti singkat sambil berlalu menuju kamarnya. 

Wulan hanya melongo, mengikuti langkah Ibunya dengan tatapan  matanya. Ketika pintu kamar tertutup, Wulan terhenyak. Sementara itu di balik pintu Bu Hesti sedang bersandar sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sebenarnya dia ingin menjelaskan pada Wulan tentang apa yang sebenarnya terjadi, Faisal terpeleset di tangga, kakinya terkilir cukup parah. Tetapi Bu Hesti merasa takut salah karena Faisal melarang saat Ibunya berniat memberi kabar pada Wulan bahwa dirinya sedang sakit. Sebenarnya Bu Hesti juga tidak berniat mengatakan seperti apa yang di ucapkannya tadi. Entah mengapa seperti meluncur begitu saja,di luar kendalinya. Akhirnya yang ada permohonan agar kalimat itu bisa membawa kebaikan.
Sore itu langit terkurung mendung. Seolah mendukung perasaan gelisah yang sedang mengepung Wulan. Sudah tidak peduli dengan Faisal, ucapan itu membuatnya bertanya-tanya apakah benar dia tidak peduli lagi dengan suaminya, bila saat ini dia sedang penasaran dengan apa yang terjadi dengan suaminya. Tiba-tiba dia juga teringat satu hal. Biasanya, saat cuaca mendung Faisal memintanya membuat the hangat kemudian mengajaknya duduk di teras. Faisal menyebutnya upacara menunggu hujan. Wulan tersenyum mengingat hal itu. Kerinduan pada suaminya datang kemudian kembali merasa gelisah, bertanya-tanya lagi apa yang sedang terjadi pada suaminya. Tetapi dia tak juga mengangkat telepon untuk menghubungi suaminya. Tidak pula berani bertanya lagi pada ibunya. Bila Faisal pernah di hadang rasa cemburu, sekarang Wulan sedang di hadang rasa gengsi. Apakah dia takut menyungkurkan rasa itu atau egonya yang menariknya agar mundur? 
Pak Prasetyo mendekati Wulan yang sedang termenung sendiri di ruang tamu. Tetapi berlagak tidak mengerti dengan apa yang sedang di rasakan anaknya. Pak Pras membaca koran tetapi sebenarnya dia menunggu Wulan untuk berbicara. Ya berbicara  tentang harapannya, tentang niatnya tentang isi hatinya. Kemarin-kemarin dia terlalu banyak bertanya dan tampaknya itu bukan tindakan  yang tepat setidaknya demikian hasil “rapat antar besan” beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya Pak Pras mulai ragu, jangan-jangan saat ini adadalh saat yang tepat untuk bertanya.

        “Pa....!” panggil Wulan tiba-tiba 

        “Ya...!”  jawab Pak Pras sambil menurunkan korannya sedikit, memandang Wulan. Tetapi Wulan malah menunduk.

Pak Pras meletakkan korannya “Ada apa Lan?”

        “ Ah nggak Pa, nggak jadi.”

        “ O, tidak bisa !” gurau Pak Pras, Wulan tertawa kecil.”Mau ngomomg apa Lan?”

Akhirnya Wulan berani bertanya tentang kabar Faisal.. Pak Pras memberi jawaban singkat bahwa kaki Faisal terkilir. Begitu saja, karena demikian skenario yang segera mereka buat sejak Wulan tanpa sengaja mendengar ucapan ibunya di telpon.
        “ Emm....tapi bagaimana kondisinya Pa?” tanya wulan setelah diam cukup lama.
        “Kabarnya lumayan parah, tidak bisa jalan.” jawab Pak Pras santai sambil megambil koran yang tadi di lipatnya. Sesekali melirik ekspresi wajah Wulan yang kaget dan kemudian berubah murung.

Telephone rumah berdering, Pak Pras bangkit dari duduknya sementara Wulan hanya memandang ayahnya dengan wajah bergambar kecemasan. Pak Pras menerima telepon dari kawannya,  tertawa-tawa, Wulan merasa lega, bukan berita buruk tentang suaminya pikirnya. Dia berjalan mondar mandir dari ruang tamu ke ruang tengah kembali lagi ke ruang tamu. Pak Pras menangkap kecemasan anaknya tetapi dia bertahan diam, sekali lagi memang demikian skenarionya. Bukan tega membiarkan anaknya dalam kecemasan tetapi memang sengaja membuat anaknya berani mengambil langkah yang pasti atas kesadaran sendiri. Dia mahasiswi managemen dan sudah teruji keberhasilannya membantu mengurus usaha penginapan keluarganya bahkan mengelola usahanya sendiri. Sekarang saatnya dia belajar menata emosinya dalam mengatasi masalah rumah tangganya. Selama ini Pak Pras banyak memberi masukan tetapi belum tampak titik terang. Padahal kalau dicermati masalahnya tidak terlampau berat. Di cemburui pasangan  terkadang kan malah menyenangkan, tandanya dia cinta dan takut kehilangan kita, kata Pak Pras waktu itu. Tetapi di satu sisi Pak Pras juga memaklumi  perasaan Wulan yang merasa terhina. Ya, memang anaknya tipe istri setia dan bisa menjaga diri.
Tentu saja tuduhan Faisal membuatnya terluka. Apalagi setelah pertengkaran mereka terjadi, istri Hasto ternyata sempat mengirim pesan padanya agar tidak bermain api. Rasa kesal kian meraja di hati Wulan, sekarang dia mengerti mengapa Faisal bersikap aneh padanya. Wulan mulai merasa bersalah atas tuduhannya pada Faisal tetapi masih ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya, tentang anak Bu Helena. Wulan tak mengunggkapkan kerisauannya pada siapapun, dia menelannya sendiri. Pesan dari istri Hasto tidak pernah di tanggapinya walau sisi lain dari dirinya membujuknya memarahi istri Hasto, agar tidak sembarangan berbicara. Kalau toh tidak begitu, sebenarnya bisa saja dia mengadukan tuduhan istri Hasto pada Hasto.  Tetapi Wulan khawatir masalah rumah tangganya menjadi makin rumit ketika dia membuka akses komunikasi dengan Hasto. Alasannya karena sebenarnya Wulan sempat menangkap sorot mata Hasto yang menurutnya agak aneh, Wulan merasakan Hasto masih menyukainya. Wulan mengakui ketajaman Faisal dalam mendeteksi bahasa tubuh Hasto saat itu, saat mereka bertemu tanpa sengaja di penginapan orangtua Wulan. Bahasa tubuh Hasto  yang menunjukkan rasa suka yang masih tersisa pada Wulan. Namun Hasto adalah pria yang cukup sopan dan bisa mengendalikan dirinya.
Jam dinding berdentang sepuluh kali. Pak Pras mengingatkan istrinya harus menghubungi Bu Syahriza yang malam ini menginap di rumah Faisal.
Informasi yang di dapat dari Bu Syahriza, sejak tadi siang hingga pukul sepuluh malam Wulan belum menghubungi Faisal maupun menelpon rumahnya. Keras kepala atau keras hati atau belum mampu menyungkurkan gengsi? Ternyata Wulan masih merasa gengsi walau kerinduannya pada Faisal meletup-letup dan rasa khawatir terus terukir di pikir sejak mendengar kabar Faisal terkilir. Sementara Faisal masih belum bersedia bila Wulan di beritahu tentang kondisinya

**
        Mengisi harinya yang kian sepi, Wulan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan seminar, mendatangi pameran tanaman dan kegiatan rutinnya, mengikuti kajian keagamaan beberapa kali dalam seminggu dan melaksanakan program-program yang telah mereka rancang. Namun kesepian masih meraja di jiwanya. Apalah artinya ilmu setinggi angkasa bila dia tidak mengamalkannya, bila ego masih menjadi sesuatu yang besar sementara dalam sehari entah berapa kali dia mengucap Allahuakbar. Apalagi tema kajian tadi adalah silaturahim, yang maknanya demikian dalam. Menyambungkan yang terputus. Dan orang yang lebih dulu berusaha menyambung silaturahim akan mendapat pahala yang besar.Demikian bisik hatinya sepulang mengikuti kajian pagi itu. Lima menit kemudian dia membalikkan arah mobilnya menuju rumahnya.
Tiga kali dia menekan bel rumahnya namun tidak ada tanda-tanda pintu terbuka. Tak putus asa, dia mencoba menghubungi telepon rumahnya hingga tiga kali tetapi nihil, tidak ada yang mengangkat. Demikian juga ketika dia menghubungi Hp suaminya, nihil.sedang tidak aktif,

        “Ya Rabbi, kuatkan hatiku agar tidak berbalik pada kebodohan lagi!” bisik Wulan sambil menyurut air matanya sambil menuju mobilnya.

Dua puluh menit kemudian Wulan sudah berada di toko bunganya “Zahra Garden” sebuah toko bunga  hidup yang lebih mirip dengan kebun. Ada beberapa pohon besar dan rindang, ayunan, dan gazebo. Bahkan di tempat itu juga ada tempat pembibitan tanaman. Walau bukan sarjana pertanian, Wulan memang memiliki minat yang tinggi terhadap tanaman hias, alhasil hobinya itu bisa menghasilkan uang.
Wulan berjalan-jalan sambil mengamati dagangan sekaligus kesenangannya itu. Tetapi kali ini pikirannya tidak sedang fokus pada tanamannya melainkan pada suaminya dan seonggok hatinya yang benar-benar sedang lara. Dia ingin menyembuhkannya dengan kata maaf dan berharap di maafkan. Memelihara ego ternyata membuatnya kian sakit jiwa, tak bermakna apa-apa tak pula berpahala, pikirnya sambil mengamati tunas-tunas muda tanaman sansivera. Saat memandangi tunas tanaman itu, tiba-tibadia berpikir,  sansivera adalah tanaman yang bisa mengikat radikal bebas dan polusi. Kabarnya di sekitar pembangkit nuklir AS, ada ratusan hektar lahan sansivera. Wulan menghembuskan nafas, radikal bebas...ya dia merasa jiwanya terlampau banyak radikal bebas yang bisa membuat kanker hati. Marah, dendam, gengsi, suudhon, egois.
        “Ya Allah, terimakasih, kau maha pembimbing, kau arahkan mataku untuk melihat tunas sansivera itu. Astaghfirullah, laahaula wala quwwata illa billah...tolong aku ya Allah !” ucapnya lirih tetapi sangat dalam.
Dengan langkah agak gontai Wulan berjalan menuju kursi panjang di bawah pohon rambutan. Lima menit kemudian Hp nya berbunyi. Ibunya mengajaknya ke Islamic Book Fair di Istora Senayan. Ajakan yang cukup menyenangkan, Wulan baru sadar, bahwa Islamic Book Fair sudah datang lagi. Dia menarik nafas dalam, teringat, tahun lalu dia mengunjungi IBF bersama Faisal, berdua saja karena Najwa memilih ikut neneknya. Mereka benar-benar menikmati waktu berdua yang istimewa. Sekarang, kondisinya sudah berbeda. Wulan menarik nafas dalam,perih.

**
        Sudah dua puluh menit mereka berjalan berkeliling dari stand ke stand. Ketika mereka akan meninggalkan sebuah stand buku lama, tiba-tiba Bu Hesti tidak nampak. Wulan nampak mencari-cari ibunya tetapi Pak Pras tenang saja sambil meyakinkan Wulan bahwa ibunya tidak berada jauh-jauh dari mereka. Benar saja, tiba-tiba Bu Hesti sudah muncul lagi dari arah mushola. Wulan sedikit protes, Bu Hesti hanya tersenyum dan meminta maaf kemudian segera mengalihkan pembicaraan seraya mengajak mereka ke sebuah stand salah satu penerbit terbesar di Indonesia.  Tidak banyak kata, Pak Pras segera berjalan ke arah yang ditunjuk Bu Hesti.   

        “ Lan,si Gita tadi minta di carikan islamic chicken soup parenting, tolong kamu yang mencarikan  ya. Kamu kan lebih faham, Mama mau lihat-lihat buku ini dulu, untuk keperluan penginapan kita Lan, biasa...soal tata ruang, dekorasi hehe !”

Wulan pun berjalan dari rak ke rak sampai akhirnya menemukan jajaran buku islamic parenting. Wulan mulai bingung memilih yang mana, semua menarik, semua bagus, semua penting tetapi Gita hanya minta dibelikan satu saja dan katanya terserah Wulan. Tangan kanan dan kiri Wulan memegang buku yang berbeda, menimbang-nimbang memilih yang mana. Akhirnya dia meletakkan dua buku itu ke tempatnya dan mengambil telponnya, dia berniat menelpon Gita lebih dahulu untuk memberikan gambaran tentang buku tersebut. Baru saja meletakkan telepon di telinganya..... 

Tiba-tiba mata Wulan terbelalak, dia segera menurunkan telepon. Matanya terkunci pada mata itu, degup jantungnya berdetak lebih kencang. Ada perasaan indah yang membuatnya salah tingkah tak karuan. Demikian juga orang yang berada sekitar tiga meter di hadapannya, tampak kaget dan salah tingkah, Namun kemudian masing-masing mengulum senyum sambil mengalihkan pandangan.

Bersambung...




#NulisRandom2017
#harike21 

Karena Cinta Enggan Berdusta 4

8. PENGGENGGAM SETIA             Menurut Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re, tidak mempermasa...