Aku hanya perlu berjalan dengan tenang
Agar setiap langkah bisa kuhayati
Bahwa aku sedang memanusiakan diriku
Aku tak perlu melangkah hingga terengah
Menunggu tepuk tangan
Menunggu sorak sorai
Aku hanya perlu berjalan tenang
Agar setiap langkah dapat kumengerti
Ada yang masih perlu kuisi
Aku tak perlu ragu untuk mencari
Aku tak perlu takut untuk berkata
Aku tak perlu enggan untuk bertanya
Aku hanya perlu berjalan tenang
Menggenggam mutiara hikmah
Bahwa tiap langkah ada sebuah pencerah
Jumat, 21 Juli 2017
Membaca Syarat Paling Utama Bisa Menulis?
Mari
sejenak mengingat sebuah ayat yang
pertama kali turun
Iqro’,bismirobbikalladzi kholaq (bacalah dengan
menyebut nama Tuhanmu)
Walaupun
ada kata Iqro’,bukankah Jibril tidak serta merta menyerahkan lembaran kertas
atau kitab pada Muhammad? Ya,karena memang Muhammad buta huruf. Tetapi Muhammad
bisa mendengar dan Muhammad memiliki daya renung yang tinggi ,punya hati yang peka terhadap perintah Tuhannya dan kondisi sekitarnya.
Lalu, mari
sejenak melayangkan imaginasi pada masa silam. Tidak ada kertas dan tinta
seperti saat ini. Tidak ada media menulis yang memadahi. Kalaupun ada mungkin
terbuat dari batu,kulit binatang,kulit kayau atau daun, hasil tulisan tentu
tidak bisa dibandingkan dengan saat ini.
Mari
sejenak mengamati orang-orang disekitar kita , ada yang lebih suka
mengobrol,berdialog,tanya jawab, ada yang cenderung lebih banyak berbicara tetapi
sangat suka membaca, ada yang cenderung lebih khusyuk mendengarkan ada yang
cenderung lebih banyak bergerak,melakukan sesuatu,membuat sesuatu.
Seiring
berkembangnya ilmu pengetahuan mulailah dibuat klasifikasi tipe pembelajar,
Visual,Auditori, kisntetis,taktil. Ada yang gabungan dari dua atau tiga atau
bahkan keempatnya.
Lah ini mau
ngomomg apa sih ?
Gini..melihat
fenomena diatas, berarti masuknya ilmu dan pengetahuan melalui banyak pintu bukan? Imu dan pengetahuan juga pengalaman adalah salah satu modal untuk bisa menulis. Ya,lalu kenapa lagi?
Sebagian
besar orang berangggapan, bahwa membaca buku adalah satu-satunya syarat
utama untuk bisa menulis. Benar sih. Tetapi berapa persen kebenarannya?
Hanya
sebuah opini saja, berdasar fakta yang saya lihat sebenarnya banyak sekali
yang suka menulis atau bisa menulis tetapi bukan orang yang “kutu buku” . Demikian juga sebaliknya. Orang kutu buku banyak juga yang tidak pandai menulis. Memang
tidak dipungkiri dengan banyak membaca kita jadi mengerti bagaimana menyusun
kalimat yang baik dan benar.
Jumat, 07 Juli 2017
Renjana Sang Kamboja
Sekitar
tiga bulan yang lalu,pohon kamboja di
belakang rumah tiba-tiba rubuh. Sayang sih,tapi mau bagaimana lagi? Daun-daun
pada ranting ranting kecil kami pangkas , karena akarnya belum benar-benar
tercabut, jadi kami berdirikan lagi walau pohon itu harus bersandar di tembok. Sebagian
ranting kecil kami sisihkan di sudut halaman. Kami sudah tidak menaruh harapan
apapun pada pohon itu selain menerima kenyataan,peneduh halaman sudah tumbang
dan bertanya-tanya pelajaran apa yang bisa kami ambil ? Ada apa gerangan? Sempat saya men-upload pohon itu dengan caption yang
kurang lebih seperti yang saya katakana tadi. Beberapa malah ada yang komentar,
apa-apa ga usah dipikirin. Ada yang komentar, nanam lagi saja,kamboja mudah
tumbuh. Ya sudah tidak perlu saya tanggapi komentar orang yang tidak mengerti
perjalanan batin ini..
Beberapa
hari kemudian, saya temukan biji kamboca berkecambah, tapi saya tidak mengerti
harus saya apakan, hanya semp[at saya abadikan dengan foto. Karena tersusul
kesibukan-kesibukan yang lain, akhirnya kecambah bunga itu mengering.
Bersamaan dengan itu, ternyata saya dan suami mempunyai pertanyaan yang sama; mengapa bunga
kamboja yang masih tersisa pada batang yang rubuh tidak segera layu? Setelah kami cek, rupanya pohon kamboja itu masih bertahan hidup. MasyaAllah,kuasa Allah. Memang benar Kamboja jenis pohon yang mudah tumbuh tetapi tanpa izinNya,tidak akan tumbuh juga kan?
Dan sekarang,
daun-daun baru dan bakal-bakal bunga mulai bermunculan. Kekaguman dan
kegembiraan menyesak di dada. Mungkin, tak semua bisa merasa, tak mengapa.
Jatuh
belajar untuk bangkit.
Rubuh
belajar untuk kukuh
Jika
berpikir kekuatan adalah milik kita ada dua kemungkinan, terlalu PD atau
sebaliknya, putus asa.
Terimakasihku
padaNya, terimakasihku juga padanya si Kamboja.
Rabu, 05 Juli 2017
Balada Tissue Dapur
Balada Tissue Dapur
Bagi saya tissue adalah kebutuhan pokok. Entah itu facial tissue ,toilet tissue atau tissue untuk makanan.
Tetapi untuk toilet tissue dan facial facial tissue, tidak saya fungsikan sebagaimana namanya.
Ceritanya beberapa hari lalu saya belanja di swalayan. Awalnya mau beli facial tissue,karena lagi kambuh alergi. 😷. Ehh kok ada tissue dapur (di kemasan disebutnya kitchen towel) lagi promo. Tiga roll cuma 20 ribu lebih dikit. Padahal kalau eceran satu rolnya 9sampai 10rb.Ah, langsung saja saya masukkan keranjang belanjaan dan saya ambil facial tissue yang agak tipis.
Sampai rumah, ternyata facial tissue yang saya beli langsung habis karena rhinitis saya kian hebat, bersin dan meler-meler makin hebat. 😷✌.Ujung-ujungnya kehabisan tissue. Darurattt.. saya pun mulai melirik tissue dapur, bodo amat.
Ehh diluar dugaan, kok ternyata lembut dan kuat. Saya pun enjoy saja memakainya. Tapi kalau mau mengambil kok ribet banget, karena memang saya belum beli alat penggantungnya.
Semalam sebelum pergi, tiba-tiba suami minta dicarikan hanger yang sudah patah tengahnya, atau yang mudah dipatahkan tengahnya. Walau saya bertanya-tanya buat apa? Tetapi saya tetap tidak bertanya untuk apa.Latihan tidak cerewet hihi. Ternyata, untuk menggantungkan tissue dapur itu, supaya saya mudah mengambilnya. 😁😁 Ohh..balada tissuee dapur. *menjagasemangatmrnulissaja
#menulis
#cerita
#celotehzaa
Bagi saya tissue adalah kebutuhan pokok. Entah itu facial tissue ,toilet tissue atau tissue untuk makanan.
Tetapi untuk toilet tissue dan facial facial tissue, tidak saya fungsikan sebagaimana namanya.
Ceritanya beberapa hari lalu saya belanja di swalayan. Awalnya mau beli facial tissue,karena lagi kambuh alergi. 😷. Ehh kok ada tissue dapur (di kemasan disebutnya kitchen towel) lagi promo. Tiga roll cuma 20 ribu lebih dikit. Padahal kalau eceran satu rolnya 9sampai 10rb.Ah, langsung saja saya masukkan keranjang belanjaan dan saya ambil facial tissue yang agak tipis.
Sampai rumah, ternyata facial tissue yang saya beli langsung habis karena rhinitis saya kian hebat, bersin dan meler-meler makin hebat. 😷✌.Ujung-ujungnya kehabisan tissue. Darurattt.. saya pun mulai melirik tissue dapur, bodo amat.
Ehh diluar dugaan, kok ternyata lembut dan kuat. Saya pun enjoy saja memakainya. Tapi kalau mau mengambil kok ribet banget, karena memang saya belum beli alat penggantungnya.
Semalam sebelum pergi, tiba-tiba suami minta dicarikan hanger yang sudah patah tengahnya, atau yang mudah dipatahkan tengahnya. Walau saya bertanya-tanya buat apa? Tetapi saya tetap tidak bertanya untuk apa.Latihan tidak cerewet hihi. Ternyata, untuk menggantungkan tissue dapur itu, supaya saya mudah mengambilnya. 😁😁 Ohh..balada tissuee dapur. *menjagasemangatmrnulissaja
#menulis
#cerita
#celotehzaa
Pecak Tempe
Pecak Tempe
Pecak, jenis masakan yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Sunda atau Betawi. Ada berbagai jenis pecak; pecak oncom dan berbagai pecak berbahan ikan. Tetapi saya sendiri kurang mengerti apa saja sebenarnya bumbu pecak yang biasa dijual di warung atau rumah makan.
Saya pernah mendapat bumbu pecak oncom dari salah satu tukang sayur langganan saya, orang asli Betawi.
Bumbunya simple banget:
Bawang merah, jahe, cabe merah besar (bisa juga ditambah rawit), dihaluskan. Bisa juga ditambahkan kemangi. Jangan lupa, oncom digarang dulu, baru dicampurkan pada bumbu2 tadi.
Rasanya? Lidah saya sih menerima. Nah, beberapa hari ini saya terserang flu. Menurut saya, masakan ini oke banget buat obat flu, cermati saja, ada bawang merah, ada jahe, ada cabe dan tidak mengandung minyak( krn digarang, bukan digoreng). Karena, flu biasanya disertai tenggorokan tidak nyaman dan akhirnya batuk. Sebaiknya kita mengurangi minyak.
Agar nilai gizi lebih baik, saya mengganti oncom dengan tempe (tempenya juga digarang). Kenapa tidak ikan? Nggak, takut memicu alergi, karena saya penderita alergi yang lumayan oke. 😁
Ga perlu tambah sayuran? Tentu perlu. Biar simple , saya rebus sawi manis (kenapa sawi manis? Krn lebih enak dan segar, menurut saya) . Selain itu, batangnya mudah empuk. Atau bisa juga ditemani toge, daun kenikir atau apa sajalah sesuai selera. Praktis saja, yang penting nilai gizinya cukup. Ga usah ribet numis2 ,rebus atau kulup atau kukus sudah cukup.
Selamat mencoba...
Jadikan makananmu obat dan jadikan obat sebagai makananmu (ini kata-kata Socrates atau Discrates atau siapa lupa, yg jelas bukan kata-kata saya)
Pecak, jenis masakan yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Sunda atau Betawi. Ada berbagai jenis pecak; pecak oncom dan berbagai pecak berbahan ikan. Tetapi saya sendiri kurang mengerti apa saja sebenarnya bumbu pecak yang biasa dijual di warung atau rumah makan.
Saya pernah mendapat bumbu pecak oncom dari salah satu tukang sayur langganan saya, orang asli Betawi.
Bumbunya simple banget:
Bawang merah, jahe, cabe merah besar (bisa juga ditambah rawit), dihaluskan. Bisa juga ditambahkan kemangi. Jangan lupa, oncom digarang dulu, baru dicampurkan pada bumbu2 tadi.
Rasanya? Lidah saya sih menerima. Nah, beberapa hari ini saya terserang flu. Menurut saya, masakan ini oke banget buat obat flu, cermati saja, ada bawang merah, ada jahe, ada cabe dan tidak mengandung minyak( krn digarang, bukan digoreng). Karena, flu biasanya disertai tenggorokan tidak nyaman dan akhirnya batuk. Sebaiknya kita mengurangi minyak.
Agar nilai gizi lebih baik, saya mengganti oncom dengan tempe (tempenya juga digarang). Kenapa tidak ikan? Nggak, takut memicu alergi, karena saya penderita alergi yang lumayan oke. 😁
Ga perlu tambah sayuran? Tentu perlu. Biar simple , saya rebus sawi manis (kenapa sawi manis? Krn lebih enak dan segar, menurut saya) . Selain itu, batangnya mudah empuk. Atau bisa juga ditemani toge, daun kenikir atau apa sajalah sesuai selera. Praktis saja, yang penting nilai gizinya cukup. Ga usah ribet numis2 ,rebus atau kulup atau kukus sudah cukup.
Selamat mencoba...
Jadikan makananmu obat dan jadikan obat sebagai makananmu (ini kata-kata Socrates atau Discrates atau siapa lupa, yg jelas bukan kata-kata saya)
Kamis, 29 Juni 2017
Perdagangan Ideologi
Sebagaimana perdagangan barang-barang, pada dasarnya di dunia ini banyak
pelaku perdagangan non materi alias faham, aliran atau sebut saja ideologi . Ada yang yang menjajakan kebebasan, ada yang berkata bahwa harta itu
bisa membuat wibawa jadi harus di kejar sampai ke ujung dunia, ada yang mengatakan hidup hanya sekali, ayo bersenang-senang,
ada yang mengajak pada kebenaran pada
kitab suci, ada yang promosi pentingnya komunal, ada yang mengagungkan cinta ....wah banyak lah pokoknya.
Apakah dalam perdagangan ideologi ini ada agen dan marketing ? Woo...ya jelas ada.
Masing-masing punya marketing yang handal dengan product knowledege yang top
markotop.
So, what?
Kalau sudah begitu ngapain?
Mana yang kita minati itulah yang akan membentuk
ikatan (aqoid, aqidah) kita dan pada akhirnya membentuk pula mindset dan roadmap dalam kehidupan kita.
Lalu, apa yang bisa menyebabkan manusia
mempunyai ikatan, mindset dan roadmap
yang berbeda-beda?
Banyak faktor. Salah satunya yang paling berpengaruh
adalah seberapa sering kita dicekokin, di blesekkan, dicelupin, disuapain, diiming-imingin.
Nah...sekarang mari kita bertanya, “dagangan”
apa yang paling kita minati? Apakah kita
sudah mengerti keunggulan dan kekurangan
dagangan yang kita minati? Atau jangan-jangan apa yang kita minati itu malah
tidak ada keunggulannya sama sekali?
Apakah perlu kita menjadi “pemain” perdagangan? Dan seiring pasar bebas barang-barang,, pasar bebas ideologi pun berkembang.
Napoleon berkata:
The
world suffer a lot. Not becouse of the violence of bad people but becouse of
the silence of good people
Tuh kan, Napoleon aja bilang, orang baek- baek yang cuma diem-diem aja yang bikin kejahatan
kian merajalela di dunia ini, bukan karena kejahatan orang-orang yang jahat
semata.(Eh tapi ingat ya baik tu belum tentu benar)
Pastinya nih ya, kalau Napoleon bilang
gitu, berarti Pak Napol ini termasuk
orang yang ga diem aja kan? yang juga berdagang pemahaman , yang ingin
melakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia kan? ...(ehh tapi apa sih dagangan
Napoleon? )
Hem..itu baru kata Napoleon loh, bagaimana
dengan kata orang-orang hebat yang lain lagi? Ya sammmmaaa, cuma beda bahasanya
saja. (tapi ati-ati yaa omongan orang
hebat belum tentu bener juga, apalagi cuma yang nulis ini heeee)
Yang saya ketahui sih, di di dunia ini kita di
tuntut berdagang non materi kok , kita dituntut menjadi pelaku ,penebar
dagangan yang halal dan baik. Apalagi
bila kita yakin dagangan kita adalah dagangan yang baik dan bermutu. Yahhh sebagaimana kita dagang barang yang
berkualitas jangan kaget juga kalau dagangan yang baik dan halal itu “di
tembak”, di jatuhkan di fitnah biar ga
laku dsb...itu sudah resiko bro.
So, keep the fighting spirit not spirit for fighting
#NulisRandom2017
#harike29
Kamis, 22 Juni 2017
Konspirasi Yang Indah ( 3 )
“Bagaimana jika kita mencoba menemui
menantu kita masing-masing?” kata Pak Marzuki seketika nampaknya pemikiran itu
sudah bersarang sejak tadi dalam benaknya.
“
Misinya?” tanya Bu Syahriza
“ Misinya perdamaian tanpa menggurui melainkan memberi teladan!”
jelas Pak Marzuki.
“Setuju
Pak,
perbuatan berbicara lebih lantang daripada kata-kata!” sahut Bu Hesti. “Saya ingin menjenguk Faisal, saya
juga sudah kangen humor segarnya !” imbuhnya.
Mereka sepakat tentang misi itu dan telah mempersiapkan rencana satu, dua dan
tiga bila memungkinkan. Dan rencana itu akan diluncurkan tergantung situasi yang
mereka hadapi nanti saat bertemu menantu masing-masing.
**
Pagi itu, mertua Wulan datang ke rumah orangtua Wulan. Bu Syahriza
langsung memeluk Wulan kemudian mencium pipi dan jidat Wulan sebelum Wulan sempat mengulurkan tangan untuk
bersalaman. Ketika Wulan
mencium punggung tangan ayah mertuanya
tangan kiri Pak Marzuki spontan mengelus kepala Wulan penuh kasih. Semua berjalan
dengan sangat alamiah tanpa kepura-puraan.
“Apa
kabar Nak?” tanya Pak Marzuki sambil tersenyum menatap Wulan yang tak kuasa menahan
air matanya.
“Mana
cucuku?” tanya Bu Syahriza.
Tak lama kemudian Bu Hesti muncul sambil
menuntun Najwa, di susul Pak Prasetyo. Najwa langsung menghambur ke pelukan
neneknya yang sering mendongeng untuknya tentang burung hantu kecil yang lucu
dan cerdas. Matanya bulat dan lebar seperti Najwa.
“Coba
tebak, apa ini?” tanya Pak Marzuki,
Najwa bergegas megambil bungkusan kecil dari tangan Pak Marzuki. “Eit, tidak
bisa....sayang kakek dulu!”
Najwa segera mendaratkan ciuman di pipi
kakeknya dan meraih bungkusan itu. Boneka burung hantu kecil dan kue. Najwa
kegirangan sekarang menghambur ke pelukan ibunya, memamerkan bonekanya.
“Ibu nangis?”
tanya Najwa dengan polosnya sambil memegang-megang mata Wulan.
“Wahh lucu yaaa burung hantunya!” selimur Wulan sambil mengelus kepala putrinya.
“Sebentar ya, Ummi mau membuat
minuman untuk Kakek dan Nenek!”
Wulan tergugu di dapur. Tangannya tak
juga mengambil cangkir di hadapannya. Dia
sangat terharu, tak terpancar kemarahan dan kebencian segaris pun di wajah
mertuanya. Justru Wulan merasakan kasih sayang yang seolah ditumpahkan dari
hati. Rasa malu dan bersalah yang
sangat atas prilakunya selama ini sedang
menyerangnya dengan hebat.
Berkali-kali dia menghapus air matanya tetapi masih saja mengalir.
“Lan,
mertuamu minta air putih !” kata Bu Hesti tiba-tiba dari belakang punggung
Wulan. “Sudah Lan, kamu jangan menangis seperti itu. Kurang bagus buat psikis
Najwa.”
Wulan mengangguk, menghapus air matanya
kemudian menarik nafas dalam. Dia bisa menghentikan air matanya tetapi tidak
bisa menyembunyikan mata sembabnya ketika harus menyuguhkan minuman. Tetapi
seolah dia sudah tidak peduli lagi. Mereka semua orangtua yang sangat di sayanginya. Dia hanya perlu mempersiapkan jawaban cerdas untuk
pertanyaan Najwa. Entah satu, tiga atau tujuh menit lagi bahkan bisa jadi besok
dia masih menanyakan.
“Bagaimana
bisnis tanaman hias
mu Lan?” tanya Bu Syahriza.
“Alhamdulillah
lancar Bunda, kemarin ada yang memesan
beberapa jenis bunga, katanya untuk hari Ahad yang akan datang bahkan kami sempat kekurangan, untung
saja masih ada waktu untuk mencarikan kekurangannya ! ”
“Alhamdulillah,
untuk acara apa rupanya pakai bunga banyak-banyak ?” tanya Pak Marzuki.
“Saya
kurang mengerti Yah, Kemungkinan...emm, untuk
keperluan dekorasi pernikahan!”
jawab Wulan. Tiba-tiba wajahnya sendu. Bu Syahriza melirik ekpresi wajah Wulan
kemudian menarik nafas perlahan.
“Terus
bagaimana Lan?” tanya Pak Marzuki
“Yaa...sedang mencari
kekurangannyanya, Yah .”
“Perlu
bantuan Ayah, Lan? Nanti Ayah bantu mencari ke bukit berbunga hehee...” gurau
Pak Marzuki.
Tawa mereka berderai. Suasana sangat hangat, seperti tidak terjadi apa-apa antara
Wulan dan Faisal. Seperti tidak ada sebuah misi mulia antar besan yang sedang
di jalankan. Tiba-tiba Bu Syahriza nampak panik setelah membaca sms kemudian mohon
pamit dengan alasan harus menemui seseorang sedang sakit. Pak Marzuki mengatakan, padahal dia
masih merasa betah.
“ridho
atau tidak nih, mengantar istri ?” tanya Bu Syahriza.
“He
heee beramal ikhlas memang susah, kalau mudah surga tak lagi spesial dan neraka
tak lagi mengerikan. Tapi, yang penting terus berusaha untuk ikhlas“ jawab Pak
Marzuki sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya.
Spontan semua seperti tertegun dengan
kalimat elok itu. Terutama Wulan, matanya kembali berkaca-kaca. Keikhlasan ,
sebuah kata yang tiba-tiba menghujam hatinya. Membuatnya bertanya pada dirinya
sendiri, sudahkah dia ikhlas menerima segala kejadian baik ataupun buruk yang
hadir di hadapannya?
**
“Ibu tadi tiba-tiba
pamit, itu di luar
skenario kan?” tanya Bu Hesti setengah berbisik melalui telepon rumah.
“Iya,
di luar scenario, Faisal terkilir kakinya!”
jawab Bu Syahriza
“Ohhhh...begitu, sekarang bagaimana kondisi Faisal?”
“Sudah
di urut tetapi masih kesulitan berjalan makanya tadi terpaksa dia memberi kabar saya.”
“Ohhh
begitu, Ya
Allah, kasihaaan
menantuku .” kata Bu Hesti. Beberapa menit kemudian Bu Hesti menutup telepon
“Siapa
yang kasihan, Ma?” tanya Wulan tiba-tiba dari belakang punggung ibunya.Telinganya
menangkap kata menantu.
Bu Hesti mematung karena terkejut dan bingung.
Wulan kembali bertanya, ingin memastikan bahwa yang di dengarnya tadi tidak
salah.
“
Sudahlah Lan, kamu kan sudah tidak peduli dengan Faisal !” jawab Bu Hesti
singkat sambil berlalu menuju kamarnya.
Wulan hanya melongo, mengikuti langkah
Ibunya dengan tatapan matanya. Ketika pintu kamar tertutup, Wulan
terhenyak. Sementara itu di balik pintu Bu Hesti sedang bersandar sambil
menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sebenarnya dia ingin menjelaskan pada Wulan
tentang apa yang sebenarnya terjadi, Faisal terpeleset di tangga, kakinya
terkilir cukup parah. Tetapi Bu Hesti merasa takut salah karena Faisal melarang
saat Ibunya berniat memberi kabar pada Wulan bahwa dirinya sedang sakit.
Sebenarnya Bu Hesti juga tidak berniat mengatakan seperti apa yang di
ucapkannya tadi. Entah mengapa seperti meluncur begitu saja,di luar kendalinya.
Akhirnya yang ada permohonan agar kalimat itu bisa membawa kebaikan.
Sore itu langit terkurung mendung. Seolah
mendukung perasaan gelisah yang sedang mengepung Wulan. “Sudah
tidak peduli dengan Faisal”,
ucapan itu membuatnya bertanya-tanya apakah benar dia tidak peduli lagi dengan
suaminya, bila saat ini dia sedang penasaran dengan apa yang terjadi dengan
suaminya. Tiba-tiba dia juga teringat satu hal. Biasanya, saat cuaca mendung
Faisal memintanya membuat the hangat kemudian mengajaknya duduk di teras.
Faisal menyebutnya upacara menunggu hujan. Wulan tersenyum mengingat hal itu.
Kerinduan pada suaminya datang kemudian kembali merasa gelisah, bertanya-tanya
lagi apa yang sedang terjadi pada suaminya. Tetapi dia tak juga mengangkat telepon untuk menghubungi suaminya. Tidak
pula berani bertanya lagi pada ibunya. Bila Faisal pernah di hadang rasa
cemburu, sekarang Wulan sedang di hadang rasa gengsi. Apakah dia takut
menyungkurkan rasa itu atau egonya yang menariknya agar mundur?
Pak Prasetyo mendekati Wulan yang sedang
termenung sendiri di ruang tamu. Tetapi berlagak
tidak mengerti dengan apa yang sedang di rasakan anaknya. Pak Pras membaca
koran tetapi sebenarnya dia menunggu Wulan untuk berbicara. Ya berbicara tentang harapannya, tentang niatnya tentang
isi hatinya. Kemarin-kemarin dia terlalu banyak bertanya dan tampaknya itu
bukan tindakan yang tepat setidaknya
demikian hasil “rapat antar besan” beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya Pak
Pras mulai ragu, jangan-jangan saat ini adadalh saat yang tepat untuk bertanya.
“Pa....!”
panggil Wulan tiba-tiba
“Ya...!” jawab Pak Pras sambil menurunkan korannya
sedikit, memandang Wulan. Tetapi Wulan malah menunduk.
Pak Pras meletakkan korannya “Ada apa
Lan?”
“
Ah nggak Pa, nggak jadi.”
“
O, tidak bisa !” gurau Pak Pras, Wulan tertawa kecil.”Mau ngomomg apa Lan?”
Akhirnya Wulan berani bertanya tentang kabar
Faisal.. Pak Pras
memberi jawaban singkat bahwa kaki Faisal terkilir. Begitu saja, karena demikian skenario yang segera
mereka buat sejak Wulan tanpa sengaja mendengar ucapan ibunya di telpon.
“
Emm....tapi bagaimana kondisinya Pa?” tanya wulan setelah diam cukup lama.
“Kabarnya
lumayan parah, tidak bisa jalan.” jawab Pak Pras santai sambil megambil koran
yang tadi di lipatnya. Sesekali melirik ekspresi wajah Wulan yang kaget dan kemudian
berubah murung.
Telephone rumah berdering, Pak Pras
bangkit dari duduknya sementara Wulan hanya memandang ayahnya dengan wajah bergambar kecemasan. Pak Pras menerima telepon dari
kawannya, tertawa-tawa, Wulan merasa
lega, bukan berita buruk tentang suaminya pikirnya. Dia berjalan mondar mandir
dari ruang tamu ke ruang tengah kembali lagi ke ruang tamu. Pak Pras menangkap
kecemasan anaknya tetapi dia
bertahan diam, sekali lagi memang demikian skenarionya. Bukan tega membiarkan
anaknya dalam kecemasan tetapi memang sengaja membuat anaknya berani mengambil
langkah yang pasti atas kesadaran sendiri. Dia mahasiswi managemen dan sudah
teruji keberhasilannya membantu mengurus usaha penginapan keluarganya bahkan mengelola
usahanya sendiri. Sekarang
saatnya dia belajar menata emosinya dalam
mengatasi masalah rumah tangganya. Selama ini Pak Pras banyak memberi masukan
tetapi belum tampak titik terang. Padahal kalau dicermati masalahnya tidak terlampau berat. Di cemburui
pasangan terkadang kan malah menyenangkan,
tandanya dia cinta dan takut kehilangan kita, kata Pak Pras waktu itu. Tetapi di satu sisi Pak Pras juga
memaklumi perasaan Wulan yang merasa
terhina. Ya, memang anaknya tipe istri setia dan bisa menjaga diri.
Tentu saja tuduhan Faisal membuatnya
terluka. Apalagi setelah pertengkaran mereka terjadi, istri Hasto ternyata sempat mengirim pesan padanya agar
tidak bermain api. Rasa kesal kian meraja di hati
Wulan, sekarang dia mengerti mengapa Faisal bersikap aneh padanya. Wulan mulai
merasa bersalah atas tuduhannya pada Faisal tetapi masih ada satu hal yang
masih mengganjal pikirannya, tentang anak Bu Helena. Wulan tak mengunggkapkan
kerisauannya pada siapapun, dia menelannya sendiri. Pesan dari istri Hasto tidak
pernah di tanggapinya walau sisi lain dari dirinya membujuknya memarahi istri
Hasto, agar tidak sembarangan berbicara. Kalau toh tidak begitu, sebenarnya bisa saja dia mengadukan tuduhan istri Hasto pada Hasto. Tetapi Wulan khawatir masalah rumah
tangganya menjadi makin rumit ketika dia membuka akses komunikasi dengan Hasto.
Alasannya karena sebenarnya Wulan sempat menangkap sorot mata Hasto yang
menurutnya agak aneh, Wulan merasakan Hasto masih menyukainya. Wulan mengakui
ketajaman Faisal dalam mendeteksi bahasa tubuh Hasto saat itu, saat mereka
bertemu tanpa sengaja di penginapan orangtua Wulan. Bahasa tubuh Hasto yang menunjukkan rasa suka yang masih tersisa
pada Wulan. Namun Hasto adalah pria yang cukup sopan dan bisa mengendalikan
dirinya.
Jam dinding berdentang sepuluh kali. Pak
Pras mengingatkan istrinya harus menghubungi Bu Syahriza yang malam ini menginap
di rumah Faisal.
Informasi yang di dapat dari Bu Syahriza,
sejak tadi siang hingga pukul sepuluh malam Wulan belum menghubungi Faisal
maupun menelpon rumahnya. Keras kepala atau keras hati atau belum mampu
menyungkurkan gengsi? Ternyata Wulan masih merasa gengsi walau kerinduannya
pada Faisal meletup-letup dan rasa khawatir terus terukir di pikir sejak
mendengar kabar Faisal terkilir. Sementara Faisal masih belum bersedia bila
Wulan di beritahu tentang kondisinya.
**
Mengisi
harinya yang kian sepi, Wulan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan
seminar, mendatangi pameran tanaman dan kegiatan rutinnya, mengikuti kajian
keagamaan beberapa kali dalam seminggu dan melaksanakan program-program yang
telah mereka rancang. Namun kesepian masih meraja di jiwanya. Apalah artinya
ilmu setinggi angkasa bila dia tidak mengamalkannya, bila ego masih menjadi
sesuatu yang besar sementara dalam sehari entah berapa kali dia mengucap
Allahuakbar. Apalagi tema kajian tadi adalah silaturahim, yang maknanya
demikian dalam. Menyambungkan yang terputus. Dan orang yang lebih dulu berusaha
menyambung silaturahim akan mendapat pahala yang besar.Demikian bisik hatinya
sepulang mengikuti kajian pagi itu. Lima menit kemudian dia membalikkan arah mobilnya
menuju rumahnya.
Tiga kali dia menekan bel rumahnya
namun tidak ada tanda-tanda pintu terbuka. Tak putus asa, dia mencoba menghubungi
telepon rumahnya hingga tiga kali tetapi nihil, tidak ada yang mengangkat.
Demikian juga ketika dia menghubungi Hp suaminya, nihil.sedang tidak aktif,
“Ya
Rabbi, kuatkan hatiku agar tidak berbalik pada kebodohan lagi!” bisik Wulan
sambil menyurut air matanya sambil menuju mobilnya.
Dua puluh menit kemudian Wulan
sudah berada di toko bunganya “Zahra Garden” sebuah toko bunga hidup yang lebih mirip dengan kebun. Ada beberapa pohon besar dan rindang, ayunan,
dan gazebo. Bahkan di tempat itu juga ada tempat pembibitan tanaman. Walau
bukan sarjana pertanian, Wulan memang memiliki minat yang tinggi terhadap
tanaman hias, alhasil hobinya itu bisa menghasilkan uang.
Wulan berjalan-jalan sambil
mengamati dagangan sekaligus kesenangannya itu. Tetapi kali ini pikirannya
tidak sedang fokus pada tanamannya melainkan pada suaminya dan seonggok hatinya
yang benar-benar sedang lara. Dia ingin menyembuhkannya dengan kata maaf dan
berharap di maafkan. Memelihara ego ternyata membuatnya kian sakit jiwa, tak
bermakna apa-apa tak pula berpahala, pikirnya sambil mengamati tunas-tunas muda
tanaman sansivera. Saat memandangi tunas tanaman itu, tiba-tibadia berpikir, sansivera adalah tanaman yang bisa mengikat
radikal bebas dan polusi. Kabarnya di sekitar pembangkit nuklir AS, ada ratusan
hektar lahan sansivera. Wulan menghembuskan nafas, radikal bebas...ya dia merasa
jiwanya terlampau banyak radikal bebas yang bisa membuat kanker hati. Marah,
dendam, gengsi, suudhon, egois.
“Ya
Allah, terimakasih, kau maha pembimbing, kau arahkan mataku untuk melihat tunas
sansivera itu. Astaghfirullah, laahaula wala quwwata illa billah...tolong aku
ya Allah !” ucapnya lirih tetapi sangat dalam.
Dengan langkah agak gontai Wulan berjalan
menuju kursi panjang di bawah pohon rambutan. Lima menit kemudian Hp nya
berbunyi. Ibunya mengajaknya ke Islamic Book Fair di Istora Senayan. Ajakan
yang cukup menyenangkan, Wulan baru sadar, bahwa Islamic Book Fair sudah datang
lagi. Dia menarik nafas dalam, teringat, tahun lalu dia mengunjungi IBF bersama
Faisal, berdua saja karena Najwa memilih ikut neneknya. Mereka benar-benar
menikmati waktu berdua yang istimewa. Sekarang, kondisinya sudah berbeda. Wulan
menarik nafas dalam,perih.
**
Sudah
dua puluh menit mereka berjalan berkeliling dari stand ke stand. Ketika mereka
akan meninggalkan sebuah stand buku lama, tiba-tiba Bu Hesti tidak nampak. Wulan
nampak mencari-cari ibunya tetapi Pak Pras tenang saja sambil meyakinkan Wulan bahwa
ibunya tidak berada jauh-jauh dari mereka. Benar saja, tiba-tiba Bu Hesti sudah
muncul lagi dari arah mushola. Wulan sedikit protes, Bu Hesti hanya tersenyum
dan meminta maaf kemudian segera mengalihkan pembicaraan seraya mengajak mereka
ke sebuah stand salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Tidak banyak kata, Pak Pras segera berjalan
ke arah yang ditunjuk Bu Hesti.
“
Lan,si Gita tadi minta di carikan islamic chicken soup parenting, tolong kamu
yang mencarikan ya. Kamu kan lebih
faham, Mama mau lihat-lihat buku ini dulu, untuk keperluan penginapan kita Lan, biasa...soal tata
ruang, dekorasi hehe !”
Wulan pun berjalan dari rak ke rak
sampai akhirnya menemukan jajaran buku islamic parenting. Wulan mulai bingung
memilih yang mana, semua menarik, semua bagus, semua penting tetapi Gita hanya
minta dibelikan satu saja dan katanya terserah Wulan. Tangan kanan dan kiri
Wulan memegang buku yang berbeda, menimbang-nimbang memilih yang mana. Akhirnya
dia meletakkan dua buku itu ke tempatnya dan mengambil telponnya, dia berniat
menelpon Gita lebih dahulu untuk memberikan gambaran tentang buku tersebut. Baru
saja meletakkan telepon di telinganya.....
Tiba-tiba
mata Wulan terbelalak, dia segera menurunkan telepon. Matanya terkunci pada
mata itu, degup jantungnya berdetak lebih kencang. Ada perasaan indah yang
membuatnya salah tingkah tak karuan. Demikian juga orang yang berada sekitar
tiga meter di hadapannya, tampak kaget dan salah tingkah, Namun kemudian
masing-masing mengulum senyum sambil mengalihkan pandangan.
Bersambung...
Bersambung...
#NulisRandom2017
#harike21
Langganan:
Komentar (Atom)
Karena Cinta Enggan Berdusta 4
8. PENGGENGGAM SETIA Menurut Renata, begitu banyak laki-laki sempurna secara fisik namun cacat jiwanya. Re, tidak mempermasa...
-
Urusan perijinan begitu mudah, kami segera menyelesaikan acara berikutnya yaitu bertemu dengan beberapa rekan di tempat yang berbeda. Tiga j...
-
Gadis kecil 7 tahun berbadan kurus keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap sambil mendekap tas dari kertas bermotif berbunga-bunga. Dia...
-
Setiap kali mendengar sirine ambulance ,hati ini miris. Walaupun yang ada di dalam ambulance belum tentu orang meninggal tapi saya mendada...








